Jumat, 12 Maret 2010

KELAS KATA TUGAS DAN CIRINYA NOMINA DAN VERBA
SEBAGAI PENGISI SUBJEK DAN PREDIKAT

I. KELAS KATA TUGAS DAN CIRINYA

1. Kelas kata apa saja yang termasuk kelas kata tugas ?
Secara semantis kata tugas merupakan kata yang hanya mengandung konsep-konsep relasional (Keraf, 1991:105). Dengan istilah lain kata tugas merupakan kata yang hanya memiliki makna gramatikal (Alwi dkk., 2000:287). Dari sudut ini kata tugas memiliki persamaan dengan afiks, yakni memiliki makna gramatikal. Perbedaannya, afiks tidak mempunyai kemandirian dalam tata tulis, artinya afiks selalu ditulis berangkai dengan bentuk bebas lainnya sedangkan kata tugas dapat ditulis berdiri sendiri, kecuali partikel -lah, -kah, -tah. Meskipun demikian baik kata tugas maupun afiks secara semantis adalah bentuk terikat karena tidak mampu hadir secara mendiri dalam tutur, keculi beberapa kata tugas yang tergabung dalam interjeksi.
Secara morfologis kata tugas adalah kata yang tidak mampu menjadi dasar pembentukan bentuk kata lain (2000:287). Ciri ini yang membedakan kata tugas dengan kata utama, seperti verba nomina. Verba datang dapat menurunkan kata lain seperti mendatangi, mendatangkan, dan kedatangan. Bentuk-bentuk seperti menyebabkan dan menyampaikan tidak diturunkan dari kata tugas sebab dan sampai, tetapi dari nomina sebab dan verba sampai yang bentuknya sama tetapi kategorinya berbeda.
Secara sintaksis kata tugas merupakan kata yang hampir semuanya perlu pendampingan kelas kata lain, kecuali terinjeksi (Kridalaksana, 1986:47)
Dengan demikian, kata tugas adalah kata yang hanya memiliki makna gramatikal yang tidak mampu menjadi dasar pembentukan kata dan kehadirannya memerlukan pendampingan kelas kata yang lain.

2. Kata Tugas Ciri dan Fenomena Morfologi
Para ahli bahasa memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kata tugas. Di antara mereka yang telah menggunakan istilah kata tugas adalah Gorys Keraf. Beliau menjelaskan bahwa kata tugaas terdiri dari preposisi, konjungsi, dan adverbia (1991:107). Ahli yang lain seperti Raja Ali Haji menggunakan istilah “Harf” untuk menyebut preposisi, konjungsi, interogativa, dan onomatope. Anton M. Moeliono menggunakan istilah partikel untuk merujuk preposisi, konjungsi, penunjuk modalitas, penunjuk aspek, dan penunjuk derajat (dLm Kridalaksana, 1986:19).
Di dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa kata tugas terdiri atas beberapa subkategori, yaitu: preposisi, konjungtor, interjeksi, artikula, dan pertikel penegas.
a. Preposisi
Secara semantis, preposisi menandai hubungan makna antara konstituen di depan preposisi dengan konstituen dibelakangnya. Dalam kasus klausa pergi ke pasar misalnya, preposisi ke menyatakan hubungan makna arah antara pergi dan pasar.
Secara sintaksis, preposisi berada di depan nomina, adjektiva, atau adverbia sehingga membentuk frasa yang dinamakan frasa preposisional, seperti ke kampus, sampai penuh, dan dengan segera.
Secara morfologis, preposisi tidak mampu menjadi bentuk dasar dalam pembentukan kata.
Dilihat dari bentuknya, preposisi ada dua macam, yaitu preposisi tunggal dan preposisi majemuk. Preposisi tunggal adalah preposisi yang hanya terdiri atas satu kata dapat berupa kata dasar, misalnya di, ke, dari, pada, dan kata berafiks, seperti selama, mengenal dan sepanjang.
b. Konjungtor
Secara semantis, konjungtor menandai hubungan makna antara konstituen di depan
konjungtor dengan konstituen dibelakangnya. Contoh:
(1) Tari dan Ida sedang belajar bahasa.
Konjungtor dan menunjukan hubungan makna penambahan atau penjumlahan antara Tari
dan Ida.
Secara sintaksis, konjungtor dibagi menjadi empat kelompok, yaitu: konjungtor
koordinatif, konjungtor korelatif, konjungtor subordinatif, dan konjungtor antar
kalimat.
Secara morfologis, konjungtor tidak mampu menjadi bentuk dasar dalam pembentukan
kata.
c. Interjeksi
Secara semantis, interjeksi mengungkapkan rasa hati pembicara seperti rasa kagum,
sedih, dan heran. Untuk menyatakan betapa cantiknya seseorang, misalnya, kita
tidak hanya berkata, “Cantik sekali kau,” tetapi diaawali dengan kata seru atau
interjeksi aduh yang mengungkapkan perasaan kagum kita. Dengan demikian, kalimat
“Aduh, cantik sekali kau,” tidak hanya menyatakan fakta tetapi juga rasa hati
pembicara.
Secara sintaksis, interjeksi tidak bertalian dengan unsur kalimat yang lain.
Interjeksi mampu hadir secara mandiri dalam tutur tidak memerlukan pendampingan
konstituen lainnya.
(2) a. Masyaallah!
b. Masyaallah, seekor sapi berkepala lima!
(3) a. Amboi!
b. Amboi, sedap sekali masakan ini!
Kalimat (a) hanya memiliki satu konstituen, yakni interjeksi itu sendiri.
Kehadiran interjeksi tidak bergantung pada konstituen yang lain. Kalimat (b)
terdiri atas dua bagian. Pertama, bagian interjeksi. Kedua, bagian yang
mengungkapkan fakta. Kedua bagian itu tidak saling bergantungan. Masing-masing
mandiri secara semantis maupun sintaksis.
Secara morfologis interjeksi tidak mampu menjadi bentuk dasar dalam pembentukan
kata.
d. Artikula
Secara semantis, artikula adalah kata tugas yang membatasi makna nomina. Ada tiga
kelompok artikula, yaitu: artikula yang brsifat gelar, mengacu ke makna kelopok,
dan menominalkan.
Artikula yang bersifat gelar pada umumnya bertalian dengan orang atau hal yang
dianggap bermartabat. Jenis-jenis artikula ini adalah sang, sri, hang, dan dang.
Artikula yang mengacu ke makna kelompok atau makna kolektif adalah para. Karena
artikula itu mengisyaratkan ketaktunggalan makna nomina yang diiringinya tidak
dinyatakan dalam bentuk kata ulang.
Artikula yang menominalkan dapat mengacu ke makna tunggal atau generik,
bergantung pada konteks kalimatnya. Artikula itu adalah si.
(4) Aduh, kasihan si miskin itu mengais makanan dari tempat sampah.
(5) Dalam masa krisis si miskinlah yang selalu menderita.
Frasa si miskin dalam kalimat (4) menyatakan makna tunggal dan dalam kalimat (5)
menyatakan makna generik, yaitu kaum miskin.
Secara sintaksis, artikula terletak didepan nomina atau kata yang dinominalkan.
Artikula tidak pernah mengiringi nomina, tetapi selalu mendahuluinya.
Secara morfologis, artikula tidak mampu menjadi bentuk dasar dalam pembentukan
kata.
e. Partikel Penegas
Secara semantis, penegas merupakan kata tugas yang menyatakan penegasan dan
pengerasan arti. Penegasan dinyatakan oleh partikel -lah, -kah, -tah, dan
pengerasan arti kata dinyatakan oleh pun.
Secara sintaksis, partikel terletak setelah kelas kata lain yang diikutinya.
Secara morfologis, pertikel tidak mampu menjadi bentuk dasar dalam pembentukan
kata.

II. NOMINA DAN VERBA SEBAGAI PENGISI SUBJEK DAN PREDIKAT
Nomina dan verba merupakan kelas kata utama yang sangat dominan dalam penggunaan bahasa. Demikian pula subjek dan predikat merupakan fungsi sintaksis utama yang dominan dalam penggunaan bahasa. Setiap kali orang berbahasa cenderung menggunakan nomina dan verba atau dalam kerangka fungsi sintaksis subjek dan predikat. Nomina berkorelasi dengan subjek dan verba berkorelasi dengan predikat. Akan tetapi, apakah pengisi fungsi subjek selalu kategori nomina? Dan pengisi fungsi predikat selalu verba?
1. Nomina dan Subjek
Dalam bahasa Indonesia, nomina merupakan kelas kata yang mempunyai beberapa ciri. Berdasarkan bentuknya, nomina berupa kata dasar atau kata berimbuhan ke-an, per-an, dan -an (Keraf, 1991:57). Ciri bentuk ini tidak bersifat mutlak artinya ada kata yang berbentuk nomina namun bukan nomina.
(1) Dia anak yang pemalas.
(2) Pemalas cenderung mencari alasan untuk tidak mengerjakan tugas.
Pemalas pada kalimat (1) berdasarkan perilaku sintaksisnya merupakan kata sifat karena menjelaskan nomina. Sedangkan pemalas pada kalimat (2) cenderung berkategori nomina karena diikuti kata kerja.
Masih ada beberapa imbuhan yang berpotensi membantuk nomina, yaitu peng-an, peng-, dan per-. Imbuhan peng-an,ke-an, dan per-an berfungsi membentuk nomina abstrak. Sedangkan imbuhan peng-, pe-, dan –an membentuk nomina konkret.
Secara sintaksis, nomina merupakan kata yang berkedudukan sebagai subjek, objek, atau pelengkap di dalam kalimat yang predikatnya berupa kata kerja. Nomina tidak dapat diingkari dengan kata tidak. Bentuk ingkarnya adalah bukan. Ciri terakhir, nomina dapat diikuti adjektiva baik secara langsung maupun diantarai yang (Alwi, 2000,213).
Dalam hubungannya dengan analisis sintaksis yang berupa subjek, nomina mempunyai kaitan yang erat. Sebagian ahli berpendapat bahwa pengisi fungsi subjek adalah nomina, frasa nomina atau sesuatu yang dianggap nomina (Putrayasa, 2007:64).
(3) Mereka bergembira.
(4) Rumah itu bagus.
(5) Merokok merusak kesehatan.
Kalimat (3) merupakan contoh subjek yang berupa nomina, kalimat (4) memuat subjek yang berupa frasa nominal, dan klimat (5) merupakan contoh subjek yang berupa kata yang dianggap nomina.
Di dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa pengisi fungsi subjek pada umumnya adalah nomina, frasa nominal, atau klausa, bahkan sering juga berupa frasa verbal (Alwi,2000:327).
(6) Harimau binatang liar.
(7) Anak itu belum makan.
(8) Karyawan yang tidak ikut upacara akan ditindak.
(9) Berjalan kaki menyehatkan badan.
Ada perbedaan sudut pandang antara Putrayasa dan Alwi dalam melihat pengisi fungsi subjek khususnya yang berupa kata yang dianggap nomina (menurut Putrayasa) atau verba (menurut Alwi). Perbedaan ini tampak dalam tabel berikut.
Putrayasa
1. Secara semantis, dianggap nomina karena menyatakan makna hal/perihal (merokok).
2. Secara sintaksis dapat diingkari dengan bukan. Bukan merokok yang merusak kesehatan, tetapi...
3. Dapat diikuti adjektiva. Merokok yang sopan tidak di sembarang tempat.
Alwi:
1. Secara semantis, disebut verba karena menyatakan makna perbuatan (berjalan kaki).
2. Secara sintaksis dapat diingkari dengan tidak. Tidak berjalan kaki yang menyehatkan badan, tetapi...
3. Secara morfologis, afiks ber- atau meng- menghasilkan verba.
Sebenarnya masih ada satu cara lagi untuk mengidentifikasi nomina atau verba, yakni dengan valensi sintaksis. Pada umumnya verba dapat bervalensi dengan akan, belum, sedang, dan telah.
(10) Akan berjalan kaki menyehatkan badan. (?)
(11) Belum berjalan kaki menyehatkan badan. (?)
(12) Sedang berjalan kaki menyehatkan badan. (?)
(13) Telah berjalan kaki menyehatkan badan. (?)
Tampaknya ciri utama verba yang berkaitan dengan kemampuannya bervalensi dengan aspek tidak dapat diterapkan pada kalimat (9). Dengan demikian ada indikasi yang lebih kuat bahwa pengisi fungsi subjek adalah nomina atau kata yang dianggap nomina.
2. Verba dan Predikat
Ciri-ciri verba dapat dikeetahui dengan mengamati perilaku semantis, perilaku sintaksis, dan bentuk morfologisnya. Verba memiliki beberapa ciri yang membedakannya dengan kelas kata yang lainnya.
Pertama, verba memiliki fungsi utama sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat. Contoh :
(14) Anak itu tertawa.
(15) Mereka sedang belajar di kamar.
Kata yang dicetak miring dalam kalimat di atas adalah predikat. Verba belajar merupakan inti predikat dari bentuk sedang belajar.
Kedua, verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan sifat atau kualitas.
(16) Para siswa sedang bernyanyi bersama.
(17) Balon itu mengecil.
(18) Tanaman itu hidup lagi setelah turun hujan.
Sedang bernyanyi dalam kalimat (16) menyatakan makna aksi, mengecil (17) menyatakan proses, dan hidup (18) menyatakan keadaan.
Ketiga, verba khususnya yang menyatakan makna keadaan tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti “paling". Verba seperti hidup atau suka tidak dapat diubah menjadi terhidup atau tersuka.
Keempat, pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan. Tidak ada bentuk seperti paling tertawa, agak bernyanyi, dan belajar sekali.
Dalam tindak berbahasa, orang lebih sering menggunakan verba sebagai predikat daripada beberapa kelas kata lainnya yang memang mampu sebagai pengisi predikat. Predikat kalimat biasanya berupa frasa verbal atau frasa adjektival. Pada kalimat yang berpola S-P, predikat dapat pula berupa frasa nominal, frasa numeral, atau frasa preposisional.
(19) Adik sedang tidur. (P=FV)
(20) Gadis itu cantik sekali. (P=FAdj)
(21) Ibunya seorang guru. (P=FN)
(22) Kakaknya tiga orang. (P=FNum)
(23) Paman sedang ke pasar. (P=FPrep)
Dengan demikian, verba bukanlah satu-satunya kategori kata yang mampu mengisi predikat.
Berdasarkan pengisi predikatnya, kalimat dibedakan menjadi dua, yaitu kalimat verbal dan kalimat nonverbal. Kalimat verbal merupakan kalimat yang predikatnya berupa verba atau frasa verbal. Kalimat (19) adalah contoh kalimat verbal. Sedangkan kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan verba atau frasa verbal seperti kalimat (20-23) (kridalaksana, 1987:244).
Putrayasa (2007:1-3) dan Keraf (1991:190) menamai kalimat berdasarkan kategori pengisi predikatnya. Kalimat yang berpredikat verba disebut kalimat verbal. Kalimat nominal atau ekuasional berpredikat nomina,dan kalimat atributif atau adjektival berpredikat adjektiva. Termasuk juga kalimat yang berpredikat numeralia disebut kalimat numeral.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. 2000. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Keraf, Gorys. 1991. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.

Kridalaksana, Harimurti. 1987. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis.
Jakarta: Proyek Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah.

Putrayasa, Ida Bagus. 2007. Analisis Kalimat: Fungsi, Kategori, dan Peran. Bandung:
PT Refika Aditama.

Putrayasa, Ida Bagus. 2007. Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Bandung: PT Refika Aditama.

0 komentar:

Posting Komentar