KLITIK DAN MORFEM DASAR TERIKAT
KLITIK
Klitik adalah morfem terikat yang memiliki makna leksikal. Klitik bisa melekat depan kata pangkalnya, disebut proklitik. Klitik juga bisa melekat belakang kata pangkalnya, disebut enklitik.
Contoh Proklitik (Klitik dan Kata Turunan)
swa- = swalayan
ekstra- = ekstraketat
maha- = mahaadil
ku- = kuambil
kau- = kauambil
anti- = antikekerasan
dwi- = dwitunggal
tri- = tridarma
catur- = caturwarga
panca- = pancausaha (tani)
dasa- = dasadarma
nir- = nirlaba
a- = amoral
ab- = abnormal
antar- = antardesa
bi- = bikarbonat
nara- = narasumber
infra- = inframerah
multi- = multiguna
purna- = purnatugas
pra- = prasejarah
semi- = semiprofesional
non- = nonkolaborasi
Contoh Enklitik (Klitik dan Kata Turunan)
-ku = bukuku
-mu = sikapmu
-nya = katanya
-isme = monoisme
MORFEM DASAR TERIKAT
Morfem dasar terikat adalah morfem yang memilki makna leksikal, tetapi secara gramatikal tidak mampu berdiri sendiri, selalu melekat dengan morfem lain, baik morfem afiks maupun klitik.
Contoh Morfem Terikat (Morfem Dasar Terikat dan Kata Turunannya)
sandar = bersandar, sandaran, disandarkan
perhati = perhatian, diperhatikan, memperhatikan
kendara = dikendarai, mengendarai, kendaraan
juang = perjuangan, diperjuangkan
lantar = terlantar, lantaran
cantum = mencantumkan, dicantumkan
guna = berguna, digunakan, menggunakan
hubung = hubungan, berhubungan, sehubungan
tutur = tuturan, penutur, menuturkan
layan = layanan, pelayanan, dilayani
langgan = langganan, berlangganan, pelanggan
landas = landasan, berlandaskan, melandasi
jabar = menjabarkan, dijabarkan, jabaran
tunjang = tunjangan, menunjang, ditunjang
kandung = kandungan, mengandung, terkandung
tuju = tujuan, tertuju, bertujuan
temu = menemukan, bertemu, ditemukan
alir = mengalir, mengalirkan, dialirkan
baur = membaur, berbaur
inap = menginap, penginapan
anjak = beranjak
dekam = mendekam
bincang = memperbincangkan, perbincangan
elak = mengelak, dielakkan, terelakkan
anjur = menganjurkan, anjuran, dianjurkan
acu = mengacu, acuan, beracuan
aju = mengajukan, ajuan, diajukan
baring = membaringkan, dibaringkan, berbaring
Jumat, 12 Maret 2010
ANALISIS UNSUR LAHIR PUISI
“DI BAWAH KAKI KEBESARAN-MU” KARYA AOH KARTAHADIMADJA
A. Dasar Analisis
Puisi dalam pengertian lama adalah karangan yang terikat oleh syarat-syarat puisi, seperti korespondensi dan periode (Sugiarta, 1984 : 117). Korespondensi adalah kesepadanan atau perilangan bunyi, irama, atau rima. Periode adalah kumpulan kalimat yang memiliki hubungan batin yang erat, baik eksplisit maupun implisit. Kalimat-kalimat tersebut bisa lepas satu sama lain, tetapi masih membentuk kesatuan dalam melukiskan suasana.
Puisi memiliki unsur lahir dan unsur batin. Unsur lahir puisi seperti rima, majas, tipografi, dan nada. Unsur batin puisi seperti tema, amanat, dan nilai-nilai. Baik unsur lahir, maupun unsur batin akan membangun keutuhan sebuah puisi.
Pada kesempatan ini analisis puisi ditekankan pada penggunaan majas dalam puisi “Di Bawah Kaki Kebesaran-Mu” karya Aoh Kartahadimadja. Majas yang dimaksud adalah metafora. Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat (Keraf, 1987 : 139)
B. Analisis Puisi
1. Teks Puisi
DI BAWAH KAKI KEBESARAN-MU
Karya : Aoh Kartahadimadja
I
Aku lenyap dalam “tiada”
Hanya engkau jua memenuhi ruangan yang tak berufuk
Gerakan yang ada padaku, suara yang keluar dari
rahangku hanya mengenangkan kebesaran-Mu jua, ya
Maha Pencipta
II
Aku sujud di bawah duli kaki-Mu
Rasa yang masih ada padaku bangga akan diri
yang hina ini, Tuhanku, hanyutkan segera
bersama lumpur yang lekat padaku!
Aku rangkaikan kata, aku susun seindah dapat
hanya untuk Engkau semata
Nama-Mu hanya tercapak di Langit-Indah tempat
insan menadahkan harap akan rakhmat yang tak
terbatas.
III
Memercik air mengintan permata, girang agaknya
dipakai bersuci
Berdandan sowka rambut gerangan hinggap
tak terseka
V
Sebagai itu, ya Tuhanku, cahaya-Mu dahulu
menyingsing teram-temaram.
Kasih-Mu jua langit gelap berangsur terang.
Kini alam dicelup cahaya; daun-daunan
melambai perak dalam ayunan hembusan sorga
VI
Intan petaruh-Mu akan kujaga baik-baik, ya Rabbi.
Debu yang hinggap dalam kelalaianku akan kugosok
seberapa dapat, sehingga indah cemerlang kukembalikan
di tangan-Mu kelak.
VII
Kalau yang kulihat indah sudah, betapa besar hasrat
melihat negeri orang yang katanya lebih indah dari
negeriku
Ya, Rabbi, bukan kepalang hsratku demi kudengar
kata-Mu tempat Engkau menyambut tentara-Mu ialah
yang terindah dalam seluruh ciptaan-Mu!
VIII
Licin, gelap, menurun dan mendaki jalan menuju
Engkau.
Akh, mengapa sesusah itu jalan ke tempat Engkau
bertakhta, ya Tuhan segala?
Di manakah Engkau sebentar dekat, sebentar jauh?
Aku rindu ..... Tuhanku. Sinarkanlah pula
cahaya-MU kini!
IX
Layang kencana kudapat di malam sepi.
Betapa sayang Engkau, Tuhanku, idaman lama ’lah
kucari, kini terkembang nyata.
Akan kuukir pualam untuk hiasan Ibu menghadap
Dikau!
X
Kelam udaraku keliling; langit harapan melengkung
hitam.
Hati pedih teriris-iris.
Kuserukan Engkau “Maha Pengampun”.
Tak adalah sungguh Engkau memanggil aku membela
benteng budi, anugerah yang Engkau limpahkan
kepada insani?
XI
Hariku yang ada masih, o, Gantungan segala makhluk,
biarlah suci mengenagkan Dikau senantiasa.
Dari mataku akan terpancar mata air tauhid.
Nafasku kan meng hembuskan ucapan syukur.
Tentram damai di dalam biarpu taufan di luar
hebat dahsyat.
XII
Kalau hendak aku turutkan suara hati aku pun ingin
mengawang ke langit-bintang.
Tetapi taman-Mu kulihat penuh semak belukar. Tak
sampai hatiku, ya Khalik, meninggalkan tanaman
yang Engkau petaruhkan kepada ibuku.
Biarlah aku menjadi tukang kebun-Mu selama-lama .....
Kini siapa yang akan duduk di sampingku
tak menjadi soal lagi.
Hati retak sudah terpulih, darah menetes
sudah kering pula.
Aku sujud di bawah kaki-Mu. Tuhan, dan segala
duka hilang lenyap disapu hembusan-Mu.
2. Analisis Metaforis Puisi
Jika puisi di atas dianalisis berdasarkan penggunakan majas metafora, maka akan didapatkan beberapa kata atau frasa yang menggunakan majas metafora tersebut. Berikut ini beberapa kata atau frasa yang menggunakan majas metafora, yaitu:
a. Ruangan pada baris /Hanya Engkau memenuhi ruangan yang tak berufuk/ tentu maksudnya bukan ruangan dalam arti sebenarnya, Ruangan dalam baris tersebut untuk membandingkan kekuasaan dan tak berufuk maksudnya tak ada batasnya. Engkau, Tuhan, memiliki kekuasaan yang tidak ada batasnya.
b. Baris /Aku sujud di bawah duli kaki-Mu/ juga memiliki metaforis. Kata kaki dalam baris tersebut digunakan untuk membandingkan tempat berpijak. Manusia sebagai makhluk yang ”rendah” di hadapan Tuhan selalu sujud, patuh, dan tunduk kepadan-Nya.
c. Kata lumpur pada baris /bersama lumpur yang lekat padaku/ adalah metafora dosa yang selalu ada pada manusia. Manusia hanya bisa memohon ampun kepada Tuhan untuk menghapus dosa, hanyut segera bersama lumpur yang lekat padaku.
d. Baris /Memercik air mengintan permata/ sebagai metafora wudu adalah sesuatu yang bisa membuat sedap jika dipandang. Berwudu adalah salah satu bersuci. Suci artinya bersih. Sesuatu yang bersih itu sedap dipandang mata.
e. Kata cahaya-Mu dalam baris /..., cahaya-Mu dahulu menyingsing .../ membanding kan petunjuk hidup. Cahaya menerangi orang yang beraktivitas di bumi. Cahaya-Mu adalah petunjuk hidup manusia agar kelak tidak tersesat.
f. Debu adalah metafora dosa kecil. /Debu yang hinggap dalam kekalalianku akan kugosok .../. akan kugosok maksudnya adalah mohon ampunan pada Tuhan.
g. /Licin, gelap, menurun dan mendaki jalan menuju Engkau/ adalah metaforis perjalanan hidup yang penuh cobaan dan rintangan.
h. Baris /benteng budi, anegerah yang Engkau limpahkan kepada insani?/ memiliki metafora pada frase benteng budi. Benteng budi maksudnya adalah pertahanan, berupa iman, dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik. Sehingga manusia selalu berbuat kebaikan.
C. Penutup
Analisis puisi ini adalah analisis sederhana. Oleh karena itu, analisis puisi ini masih banyak kekurangan. Selain itu, pengetahuan penulis yang masih kurang juga sebagai pengaruh pada kekurangan analisis puisi ini. Penulis berharap pembaca bersedia memberikan saran dan kritik untuk kesempurnaan analisis puisi.
D. Daftar Pustaka
Keraf, Gorys. 1987. Diksi dan Gaya Bahasa, Komposisi Lanjut I. Jakarta : Gramedia
Natawidjaja, S. Suparman. 1980. Apresiasi Sastra dan Budaya. Jakarta : PT Intermasa
Soegiarta. 1984. Glosaria, Istilah Bahasa dan Sastra. Solo : Intan
“DI BAWAH KAKI KEBESARAN-MU” KARYA AOH KARTAHADIMADJA
A. Dasar Analisis
Puisi dalam pengertian lama adalah karangan yang terikat oleh syarat-syarat puisi, seperti korespondensi dan periode (Sugiarta, 1984 : 117). Korespondensi adalah kesepadanan atau perilangan bunyi, irama, atau rima. Periode adalah kumpulan kalimat yang memiliki hubungan batin yang erat, baik eksplisit maupun implisit. Kalimat-kalimat tersebut bisa lepas satu sama lain, tetapi masih membentuk kesatuan dalam melukiskan suasana.
Puisi memiliki unsur lahir dan unsur batin. Unsur lahir puisi seperti rima, majas, tipografi, dan nada. Unsur batin puisi seperti tema, amanat, dan nilai-nilai. Baik unsur lahir, maupun unsur batin akan membangun keutuhan sebuah puisi.
Pada kesempatan ini analisis puisi ditekankan pada penggunaan majas dalam puisi “Di Bawah Kaki Kebesaran-Mu” karya Aoh Kartahadimadja. Majas yang dimaksud adalah metafora. Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat (Keraf, 1987 : 139)
B. Analisis Puisi
1. Teks Puisi
DI BAWAH KAKI KEBESARAN-MU
Karya : Aoh Kartahadimadja
I
Aku lenyap dalam “tiada”
Hanya engkau jua memenuhi ruangan yang tak berufuk
Gerakan yang ada padaku, suara yang keluar dari
rahangku hanya mengenangkan kebesaran-Mu jua, ya
Maha Pencipta
II
Aku sujud di bawah duli kaki-Mu
Rasa yang masih ada padaku bangga akan diri
yang hina ini, Tuhanku, hanyutkan segera
bersama lumpur yang lekat padaku!
Aku rangkaikan kata, aku susun seindah dapat
hanya untuk Engkau semata
Nama-Mu hanya tercapak di Langit-Indah tempat
insan menadahkan harap akan rakhmat yang tak
terbatas.
III
Memercik air mengintan permata, girang agaknya
dipakai bersuci
Berdandan sowka rambut gerangan hinggap
tak terseka
V
Sebagai itu, ya Tuhanku, cahaya-Mu dahulu
menyingsing teram-temaram.
Kasih-Mu jua langit gelap berangsur terang.
Kini alam dicelup cahaya; daun-daunan
melambai perak dalam ayunan hembusan sorga
VI
Intan petaruh-Mu akan kujaga baik-baik, ya Rabbi.
Debu yang hinggap dalam kelalaianku akan kugosok
seberapa dapat, sehingga indah cemerlang kukembalikan
di tangan-Mu kelak.
VII
Kalau yang kulihat indah sudah, betapa besar hasrat
melihat negeri orang yang katanya lebih indah dari
negeriku
Ya, Rabbi, bukan kepalang hsratku demi kudengar
kata-Mu tempat Engkau menyambut tentara-Mu ialah
yang terindah dalam seluruh ciptaan-Mu!
VIII
Licin, gelap, menurun dan mendaki jalan menuju
Engkau.
Akh, mengapa sesusah itu jalan ke tempat Engkau
bertakhta, ya Tuhan segala?
Di manakah Engkau sebentar dekat, sebentar jauh?
Aku rindu ..... Tuhanku. Sinarkanlah pula
cahaya-MU kini!
IX
Layang kencana kudapat di malam sepi.
Betapa sayang Engkau, Tuhanku, idaman lama ’lah
kucari, kini terkembang nyata.
Akan kuukir pualam untuk hiasan Ibu menghadap
Dikau!
X
Kelam udaraku keliling; langit harapan melengkung
hitam.
Hati pedih teriris-iris.
Kuserukan Engkau “Maha Pengampun”.
Tak adalah sungguh Engkau memanggil aku membela
benteng budi, anugerah yang Engkau limpahkan
kepada insani?
XI
Hariku yang ada masih, o, Gantungan segala makhluk,
biarlah suci mengenagkan Dikau senantiasa.
Dari mataku akan terpancar mata air tauhid.
Nafasku kan meng hembuskan ucapan syukur.
Tentram damai di dalam biarpu taufan di luar
hebat dahsyat.
XII
Kalau hendak aku turutkan suara hati aku pun ingin
mengawang ke langit-bintang.
Tetapi taman-Mu kulihat penuh semak belukar. Tak
sampai hatiku, ya Khalik, meninggalkan tanaman
yang Engkau petaruhkan kepada ibuku.
Biarlah aku menjadi tukang kebun-Mu selama-lama .....
Kini siapa yang akan duduk di sampingku
tak menjadi soal lagi.
Hati retak sudah terpulih, darah menetes
sudah kering pula.
Aku sujud di bawah kaki-Mu. Tuhan, dan segala
duka hilang lenyap disapu hembusan-Mu.
2. Analisis Metaforis Puisi
Jika puisi di atas dianalisis berdasarkan penggunakan majas metafora, maka akan didapatkan beberapa kata atau frasa yang menggunakan majas metafora tersebut. Berikut ini beberapa kata atau frasa yang menggunakan majas metafora, yaitu:
a. Ruangan pada baris /Hanya Engkau memenuhi ruangan yang tak berufuk/ tentu maksudnya bukan ruangan dalam arti sebenarnya, Ruangan dalam baris tersebut untuk membandingkan kekuasaan dan tak berufuk maksudnya tak ada batasnya. Engkau, Tuhan, memiliki kekuasaan yang tidak ada batasnya.
b. Baris /Aku sujud di bawah duli kaki-Mu/ juga memiliki metaforis. Kata kaki dalam baris tersebut digunakan untuk membandingkan tempat berpijak. Manusia sebagai makhluk yang ”rendah” di hadapan Tuhan selalu sujud, patuh, dan tunduk kepadan-Nya.
c. Kata lumpur pada baris /bersama lumpur yang lekat padaku/ adalah metafora dosa yang selalu ada pada manusia. Manusia hanya bisa memohon ampun kepada Tuhan untuk menghapus dosa, hanyut segera bersama lumpur yang lekat padaku.
d. Baris /Memercik air mengintan permata/ sebagai metafora wudu adalah sesuatu yang bisa membuat sedap jika dipandang. Berwudu adalah salah satu bersuci. Suci artinya bersih. Sesuatu yang bersih itu sedap dipandang mata.
e. Kata cahaya-Mu dalam baris /..., cahaya-Mu dahulu menyingsing .../ membanding kan petunjuk hidup. Cahaya menerangi orang yang beraktivitas di bumi. Cahaya-Mu adalah petunjuk hidup manusia agar kelak tidak tersesat.
f. Debu adalah metafora dosa kecil. /Debu yang hinggap dalam kekalalianku akan kugosok .../. akan kugosok maksudnya adalah mohon ampunan pada Tuhan.
g. /Licin, gelap, menurun dan mendaki jalan menuju Engkau/ adalah metaforis perjalanan hidup yang penuh cobaan dan rintangan.
h. Baris /benteng budi, anegerah yang Engkau limpahkan kepada insani?/ memiliki metafora pada frase benteng budi. Benteng budi maksudnya adalah pertahanan, berupa iman, dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik. Sehingga manusia selalu berbuat kebaikan.
C. Penutup
Analisis puisi ini adalah analisis sederhana. Oleh karena itu, analisis puisi ini masih banyak kekurangan. Selain itu, pengetahuan penulis yang masih kurang juga sebagai pengaruh pada kekurangan analisis puisi ini. Penulis berharap pembaca bersedia memberikan saran dan kritik untuk kesempurnaan analisis puisi.
D. Daftar Pustaka
Keraf, Gorys. 1987. Diksi dan Gaya Bahasa, Komposisi Lanjut I. Jakarta : Gramedia
Natawidjaja, S. Suparman. 1980. Apresiasi Sastra dan Budaya. Jakarta : PT Intermasa
Soegiarta. 1984. Glosaria, Istilah Bahasa dan Sastra. Solo : Intan
SYAIR ABUNAWAS
Ya Tuhanku, tidak pantas bagiku menjadi penghuni surga-Mu
Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api neraka
Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar
Dosaku seperti jumlah pasir
Maka terimalah pengakuan taubatku Wahai Pemilik Keagungan
Dan umurku berkurang setiap hari
Dan dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya
Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu
Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu
Seandainya Engkau mengampuni
Memang Engkaulah Pemilik Ampunan
Dan seandainya Engkau menolak taubatku
Kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain hanya kepada-MU
Syair Abu Nawas
AL-I'TIROOF
Ya Tuhanku, tidak pantas bagiku menjadi penghuni surga-Mu
Namun, aku tidak kuat dengan panasnya api neraka
Terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku
Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa besar
Dosaku seperti jumlah pasir
Maka terimalah pengakuan taubatku Wahai Pemilik Keagungan
Dan umurku berkurang setiap hari
Dan dosaku bertambah, bagaimana aku menanggungnya
Ya Tuhanku, hamba-Mu yang berdosa ini datang kepada-Mu
Mengakui dosa-dosaku dan telah memohon pada-Mu
Seandainya Engkau mengampuni
Memang Engkaulah Pemilik Ampunan
Dan seandainya Engkau menolak taubatku
Kepada siapa lagi aku memohon ampunan selain hanya kepada-MU
Syair Abu Nawas
AL-I'TIROOF
Minggu, 07 Maret 2010
NASIHAT BERHARGA
hadiah terbesar yang diberikan oleh kehidupan adalah kesempatan untuk bekerja keras dalam pekerjaan yang layak dilakukan (Theodore Roosevelt)
kekuatiran tidak akan menghapus kesedihan di esok hari, namun hanya menghilangkan kekuatan hari ini (C.H.Spurgeon)
belajar ibarat mengayuh melawan arus:tidak bergerak maju berarti akan bergerak mundur (Chinese Proverb) karena hidup itu seperti sebuah sepeda agar tetap seimbang kita harus terus bergerak (Albert Einstein)
Ujian bagi orang yang sukses bukanlah pada kemampuannya untuk mencegah munculnya masalah, tetapi pada waktu menghadapi dan menyelesaikan setiap kesulitan saat masalah itu terjadi (David J.Schwartz)
kerendahan hati menuntun pada kekuatan bukan kelemahan, mengakui kesalahan dan melakukan perubahan atas kesalahan adalah bentuk tertinggi dari penghormatan pada diri sendiri (John Mccloy)
sukses tidak diukur dari posisi yang dicapai seseorang dalam hidup, tapi dari kesulitan-kesulitan yang berhasil diatasi ketika berusaha meraih sukses (Booker T Washington)
alasan mengapa kekuatiran membunuh lebih banyak orang dibanding dengan kecelakaan kerja, adalah karena lebih banyak orang yang penuh kekuatiran daripada bekerja (Robert Frost)
Kata-kata yang baik memiliki daya kreatif, kekuatan yang membangun hal-hal mulia dan energi yang menyiramkan berkat-berkat kepada dunia (Lawrence G Lovasik)
tidak ada masa depan yang gemilang bagi mereka yang telah kehilangan pengharapan dan imannya (Samuel Rutherford)
karakter seperti berlian yang mampu menggores semua bebatuan lainnya (Cyrus A Bartol)
kekuatiran tidak akan menghapus kesedihan di esok hari, namun hanya menghilangkan kekuatan hari ini (C.H.Spurgeon)
belajar ibarat mengayuh melawan arus:tidak bergerak maju berarti akan bergerak mundur (Chinese Proverb) karena hidup itu seperti sebuah sepeda agar tetap seimbang kita harus terus bergerak (Albert Einstein)
Ujian bagi orang yang sukses bukanlah pada kemampuannya untuk mencegah munculnya masalah, tetapi pada waktu menghadapi dan menyelesaikan setiap kesulitan saat masalah itu terjadi (David J.Schwartz)
kerendahan hati menuntun pada kekuatan bukan kelemahan, mengakui kesalahan dan melakukan perubahan atas kesalahan adalah bentuk tertinggi dari penghormatan pada diri sendiri (John Mccloy)
sukses tidak diukur dari posisi yang dicapai seseorang dalam hidup, tapi dari kesulitan-kesulitan yang berhasil diatasi ketika berusaha meraih sukses (Booker T Washington)
alasan mengapa kekuatiran membunuh lebih banyak orang dibanding dengan kecelakaan kerja, adalah karena lebih banyak orang yang penuh kekuatiran daripada bekerja (Robert Frost)
Kata-kata yang baik memiliki daya kreatif, kekuatan yang membangun hal-hal mulia dan energi yang menyiramkan berkat-berkat kepada dunia (Lawrence G Lovasik)
tidak ada masa depan yang gemilang bagi mereka yang telah kehilangan pengharapan dan imannya (Samuel Rutherford)
karakter seperti berlian yang mampu menggores semua bebatuan lainnya (Cyrus A Bartol)
Aplikasi Pengajaran dan Pembelajaran
untuk Pemahaman
(David N Perkins Chris Unger)
Tujuan utama dari teori ini adalah penanaman pemahaman sebagai kemampuan pencapaian. Oleh karena itu, hal ini dimaksudkan hanya untuk situasi di mana pemahaman adalah menjadi perhatian pusat. Teori ini dapat diaplikasikan pada mata pelajaran bahasa Indonesia untuk SMP kelas VII. Kompetensi dasar yang sesuai misalnya membaca biografi tokoh yang akan diajarkan di semester 2.
Nilai-nilai yang didasarkan dari teori ini meliputi:
• menjadi mampu untuk menyebarkan pengetahuan dengan pemahaman
• topik belajar adalah pusat disiplin atau daerah
• motivasi (" keterlibatan,komitmen, dan tanggapan emosional")
• penggunaan aktif dan perpindahan (transfer) pengetahuan
• ingatan pengetahuan
• Pengaturan, pendekatan sistematis yang pengajaran yang membangun
• jarak yang lebar dan fleksibel tentang gaya bersifat pendidikan, termasuk mengarahkan instruksi
• siswa yang menyediakan umpan balik untuk satu sama lain
Metode. Inilah metode utama yang ditawarkan teori ini:
1) Pilih topik umum untuk pelajaran (guru dan siswa). Mereka seharusnya:
• berpusat pada satu bidang
Dengan cara, guru bersama siswa memilih satu topik umum, khususnya yang sedang menjadi pembicaraan hangat. Topik yang tepat untuk dijadikan pembahasan tentang biografi seorang tokoh, sebaiknya tokoh yang telah dikenal oleh guru maupun siswa.
• menarik dan dapat diakses oleh para siswa
Tokoh yang dipilih haruslah menarik, dan untuk mendapatkan informasi tentang tokoh tersebut, dapat dicari/diakses siswa dengan mudah.
Misalnya: tokoh yang akhir-akhir ini menjadi sorotan seluruh masyarakat dunia, yaitu ‘Barrac Obama’. Bagi siswa yang seslu mengikuti perkembangan berita, akan menjadi topik menarik yang mereka kuasai, sedangkan bagi siswa yang sebelumnya tidak tahu tentang profil Barrac Obama, akan menjadi penasaran dan tertarik untuk mempelajarinya. Dengan mudah siswa dapat mengaksesnya melalui berbagai media. Bisa lewat koran, internet, mapun buku-buku biografi ”Barrac Obama” yang akhir-akhir ini menajdi best seller di toko buku.
• tertarik kepada guru
Guru harus dapat menjadi motivator yang dapat mengundang rasa penasaran dan ketertarikan siswa pada pembelajaran yang sedang dilakukan. Diantaranya memberi umpan pertanyaan-pertanyaan. Misalnya: Kabarnya, Barrac Obama Sang Calon Presiden Amerika, dulu pernah menghabiskan masa kecilnya di Indonesia, benarkah itu anak-anak? Kalian akan menemukan jawabannya pada buku biografi ini yang berjudul Menelusuri Jejak Barrac Obama
• bisa menghubungkan ke tema berbeda
Selain mengetahui latar belakang kehidupan tokoh tersebut, kita juga dapat mengajarkan kepada para siswa untukmengangkat tema yang berbeda. Misalnya: kerja keras dalam meraih kesuksesn, hal-hal yang patut diteladani dari tokoh tersebut, dsb
• secara khusus tema tersebut dapat memperkaya pengetahuan siswa dan mempertegas karakter
Maksudnya adalah dengan mengetahui biografi tokoh ini, siswa menjadi bertambah terutama dengan hal-hal yang aktual. Serta karakter siswa sedikit banyak dapat terbentuk, yaitu siswa dapat meneladani dan meniru tindakan dan perilaku positif dari tokoh tersebut. Misalnya, Barrac Obama tertarik membaca berbagai macam buku sejak ia masih kecil.
2) Menyatakan tujuan pemahaman (guru dan siswa). Mereka seharusnya:
• Jelas dan Umum
Siswa tahu tujuan pemahaman untuk materi ini. Tujuan telah secara jelas dan umum ditunjukkan pada awal pembelajaran. Bahwa dengan membaca buku biografi, siswa dapat mengetahui tokoh ternama di dunia, dapat menyebutkannkisah menarik dalam hidup tokoh tersebut, serta dapat menyebutkan hal-hal yang patut diteladani.
• Tersirat
Memberikan bentuk spesifik pada sub topiknya. Sebagai contoh: Bagaimana Barrac Obama bisa bersekolah di Indonesia? Apa yang membuatnya tinggal di sini?
• Terpusat pada disiplin ilmu
Melanjutkan topik umum, tujuan pemahaman harus terpusat pada target pembelajaran. Siswa diharapkan dapat mengapresiasi tak hanya pada tokoh di bidang seni yang telah banyak mereka kenal, tetapi tertarik juga mengenal tokoh politik.
3) Libatkan dalam pencapaian pemahaman (para siswa).
Siswa dapat bekerja secara kelompok atau individu, kemudian guru menjadi pemandunya sehingga secara sistematis dapat mempercepat pencapaian tujuan pemahaman. Kemudian guru membuat suatu kelompok-kelompok kecil, membagi bahan diskusi tentang subtopik, siswa menyajikan hasil diskusi mereka dan saling bertukar informasi tentang subtopik yang telah mereka kuasai.
Sesuai dengan tujuan pemahaman dan topik umum, pencapaian pemahaman mempunyai panuan tentang apa yang mereka pilih, yaitu
• Hubungkan secara langsung dengan tujuan pemahaman
• Kembangkan dan pahami melalui praktek
• Libatkan berbagai gaya mengajar dan bentuk ekspresi siswa
• Kembangkan pemakaian pemikiran yang menantang
• Menunjukkan pemahaman di muka umum
4) Menyediakan penilaian berkelanjutan (guru).
Penilaian secara berkala membuat guru harus menyusun umpan balik yang bersifat informatif sejak awal proses pembelajaran, memperbaiki kesalahpahaman dan meningkatkan hasilnya. Tidak sekedar memberi nilai X atau A atau B atau , tanpa ada indikasi yang jelas dan apa-apa saja yang bisa dilakukan untuk menunjukkan revisi.
Penilaian berkala bisa terjadi secara langsung, dengan menerima umpan balik dari satu siswa ke siswa lainnya
Penilaian berkala dapat juga terjadi secara tidak langsung di alur pembelajaran. Siswa berdiskusi tentang suatu subtopik, kemudian mendengarkan pendapat teman lainnya dan siswa dapat menerima umpan balik secara implisit.
Merencanakan siapa yang memberikan umpan balik, apa umpan balik tersEbut, dan kapan meyakinkan bahwa ada waktu untuk umpan balik itu sendiri, serta kelanjutan proses berpikir merupakan tantangan yang jelas dalam kelas TfU.
untuk Pemahaman
(David N Perkins Chris Unger)
Tujuan utama dari teori ini adalah penanaman pemahaman sebagai kemampuan pencapaian. Oleh karena itu, hal ini dimaksudkan hanya untuk situasi di mana pemahaman adalah menjadi perhatian pusat. Teori ini dapat diaplikasikan pada mata pelajaran bahasa Indonesia untuk SMP kelas VII. Kompetensi dasar yang sesuai misalnya membaca biografi tokoh yang akan diajarkan di semester 2.
Nilai-nilai yang didasarkan dari teori ini meliputi:
• menjadi mampu untuk menyebarkan pengetahuan dengan pemahaman
• topik belajar adalah pusat disiplin atau daerah
• motivasi (" keterlibatan,komitmen, dan tanggapan emosional")
• penggunaan aktif dan perpindahan (transfer) pengetahuan
• ingatan pengetahuan
• Pengaturan, pendekatan sistematis yang pengajaran yang membangun
• jarak yang lebar dan fleksibel tentang gaya bersifat pendidikan, termasuk mengarahkan instruksi
• siswa yang menyediakan umpan balik untuk satu sama lain
Metode. Inilah metode utama yang ditawarkan teori ini:
1) Pilih topik umum untuk pelajaran (guru dan siswa). Mereka seharusnya:
• berpusat pada satu bidang
Dengan cara, guru bersama siswa memilih satu topik umum, khususnya yang sedang menjadi pembicaraan hangat. Topik yang tepat untuk dijadikan pembahasan tentang biografi seorang tokoh, sebaiknya tokoh yang telah dikenal oleh guru maupun siswa.
• menarik dan dapat diakses oleh para siswa
Tokoh yang dipilih haruslah menarik, dan untuk mendapatkan informasi tentang tokoh tersebut, dapat dicari/diakses siswa dengan mudah.
Misalnya: tokoh yang akhir-akhir ini menjadi sorotan seluruh masyarakat dunia, yaitu ‘Barrac Obama’. Bagi siswa yang seslu mengikuti perkembangan berita, akan menjadi topik menarik yang mereka kuasai, sedangkan bagi siswa yang sebelumnya tidak tahu tentang profil Barrac Obama, akan menjadi penasaran dan tertarik untuk mempelajarinya. Dengan mudah siswa dapat mengaksesnya melalui berbagai media. Bisa lewat koran, internet, mapun buku-buku biografi ”Barrac Obama” yang akhir-akhir ini menajdi best seller di toko buku.
• tertarik kepada guru
Guru harus dapat menjadi motivator yang dapat mengundang rasa penasaran dan ketertarikan siswa pada pembelajaran yang sedang dilakukan. Diantaranya memberi umpan pertanyaan-pertanyaan. Misalnya: Kabarnya, Barrac Obama Sang Calon Presiden Amerika, dulu pernah menghabiskan masa kecilnya di Indonesia, benarkah itu anak-anak? Kalian akan menemukan jawabannya pada buku biografi ini yang berjudul Menelusuri Jejak Barrac Obama
• bisa menghubungkan ke tema berbeda
Selain mengetahui latar belakang kehidupan tokoh tersebut, kita juga dapat mengajarkan kepada para siswa untukmengangkat tema yang berbeda. Misalnya: kerja keras dalam meraih kesuksesn, hal-hal yang patut diteladani dari tokoh tersebut, dsb
• secara khusus tema tersebut dapat memperkaya pengetahuan siswa dan mempertegas karakter
Maksudnya adalah dengan mengetahui biografi tokoh ini, siswa menjadi bertambah terutama dengan hal-hal yang aktual. Serta karakter siswa sedikit banyak dapat terbentuk, yaitu siswa dapat meneladani dan meniru tindakan dan perilaku positif dari tokoh tersebut. Misalnya, Barrac Obama tertarik membaca berbagai macam buku sejak ia masih kecil.
2) Menyatakan tujuan pemahaman (guru dan siswa). Mereka seharusnya:
• Jelas dan Umum
Siswa tahu tujuan pemahaman untuk materi ini. Tujuan telah secara jelas dan umum ditunjukkan pada awal pembelajaran. Bahwa dengan membaca buku biografi, siswa dapat mengetahui tokoh ternama di dunia, dapat menyebutkannkisah menarik dalam hidup tokoh tersebut, serta dapat menyebutkan hal-hal yang patut diteladani.
• Tersirat
Memberikan bentuk spesifik pada sub topiknya. Sebagai contoh: Bagaimana Barrac Obama bisa bersekolah di Indonesia? Apa yang membuatnya tinggal di sini?
• Terpusat pada disiplin ilmu
Melanjutkan topik umum, tujuan pemahaman harus terpusat pada target pembelajaran. Siswa diharapkan dapat mengapresiasi tak hanya pada tokoh di bidang seni yang telah banyak mereka kenal, tetapi tertarik juga mengenal tokoh politik.
3) Libatkan dalam pencapaian pemahaman (para siswa).
Siswa dapat bekerja secara kelompok atau individu, kemudian guru menjadi pemandunya sehingga secara sistematis dapat mempercepat pencapaian tujuan pemahaman. Kemudian guru membuat suatu kelompok-kelompok kecil, membagi bahan diskusi tentang subtopik, siswa menyajikan hasil diskusi mereka dan saling bertukar informasi tentang subtopik yang telah mereka kuasai.
Sesuai dengan tujuan pemahaman dan topik umum, pencapaian pemahaman mempunyai panuan tentang apa yang mereka pilih, yaitu
• Hubungkan secara langsung dengan tujuan pemahaman
• Kembangkan dan pahami melalui praktek
• Libatkan berbagai gaya mengajar dan bentuk ekspresi siswa
• Kembangkan pemakaian pemikiran yang menantang
• Menunjukkan pemahaman di muka umum
4) Menyediakan penilaian berkelanjutan (guru).
Penilaian secara berkala membuat guru harus menyusun umpan balik yang bersifat informatif sejak awal proses pembelajaran, memperbaiki kesalahpahaman dan meningkatkan hasilnya. Tidak sekedar memberi nilai X atau A atau B atau , tanpa ada indikasi yang jelas dan apa-apa saja yang bisa dilakukan untuk menunjukkan revisi.
Penilaian berkala bisa terjadi secara langsung, dengan menerima umpan balik dari satu siswa ke siswa lainnya
Penilaian berkala dapat juga terjadi secara tidak langsung di alur pembelajaran. Siswa berdiskusi tentang suatu subtopik, kemudian mendengarkan pendapat teman lainnya dan siswa dapat menerima umpan balik secara implisit.
Merencanakan siapa yang memberikan umpan balik, apa umpan balik tersEbut, dan kapan meyakinkan bahwa ada waktu untuk umpan balik itu sendiri, serta kelanjutan proses berpikir merupakan tantangan yang jelas dalam kelas TfU.
Selasa, 02 Maret 2010
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ITI
DALAM PEMBELAJARAN MENULIS SURAT DINAS
1. Latar Belakang
Integrated thematic Instruction (ITI) merupakan model pembelajaran yang dikembangkan oleh Susan J. Kavolik dan Jane R. McGeehan yang diaplikasikan dalam mata pelajaran Biologi. ITI merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan hasil penelitian mengenai perkembangan otak manusia. Oleh karena itu, pembelajaran ini terfokus pada pengembangan nilai-nilai yang mengarah pada pengembangan kemampuan berpikir dan berolah rasa yang mereka sebut “bodybrain basics”. Di dalam “bodybrain basics” terdapat enam konsep nilai yang utama.
a. Emosi adalah pintu gerbang pembelajaran dan performansi
Sylwester (1995) mengungkapkan situasi secara jelas dalam bukunya ini A Celebration of Neurons, “Kita tahu bahwa emosi sangat penting pada proses pendidikan karena emosi tersebut menggerakkan perhatian, yang mengarah pada pembelajaran dan memori. Sensori data masuk ke otak dari sel melalui badan yang dimunculkan oleh struktur otak dirancang untuk mendeteksi bahaya imminent. Le Doux (1996) menjelaskan bahwa pelayanan yang memungkinkan pada keselamatan atau kelangsungan dideteksi secara tak sadar. Otak dipicu oleh amygdala, sebuah struktur di dalam sistem otak. Sylwester menganjurkan bahwa kita mempertimbangkan sistem amygdala otak kita.
b. Kecerdasan adalah berfungsinya pengalaman
Salah satu pengumuman yang paling mengejutkan dari penelitian pembelajaran biologi adalah bahwa alam dan pemeliharaan merupakan patner yang tak terpisahkan. Sebuah kelahiran baru tiba dengan neural dasar untuk mengatasi gerak reflek seperti menghisap. Chugani dan peneliti lainnya menggunakan prosedur dan teknologi baru yang sudah tersedia, seperti dilaporkan oleh Begley (1997) untuk mendemonstrasikan bahwa pengalaman di dunia setelah kelahiran, otak dipersiapkan untuk tugas-tugas kehidupan. Penemuan yang menarik perhatian diterapkan pada anak yang berumur 3 tahun untuk belajar hal-hal yang baru dalam kehidupan. Pada usia berapa saja pada saat pengalaman dikonfrontasikan, otak mulai proses perekrutan neuron dan tumbuh dendrites, untuk berkomunikasi antara neuron-neuron di tempat yang berbeda pada otak tersebut.
Dirangsang oleh lingkungan, hubungan antara neuron meningkat seperti dijelaskan oleh Diamond (1998). Otak menjadi lebih padat dan lebih berat. Pertumbuhan ini memungkinkan pelajar untuk menghubungkan ide untuk memiliki pemahaman yang baik (penuh) menjadi lebih pandai. Perkins (1995) menyarankan kita akan menyaksikan sebuah revolusi pemahaman kita pada kecerdasan intelegensi, dan revolusi ini memiliki karakter yang bisa disimpan kembali. Perkins mengatakan bahwa kita tidak dibatasi oleh genetik keturunan. Sebaliknya, kecerdasan adalah sesuatu yang dapat dibajak, dioleh, dan diperoleh. Orang dapat belajar untuk berpikir dan bertindak secara lebih cerdas.
c. Manusia dalam seluruh kebudayaannya menggunakan intelegensi untuk menyelesaikan permasalahan dan menciptakan produk.
Manusia mempergunakan kecerdasannya untuk menyelesaikan masalah menghasilkan produk. Gardner’s (1983) melalui teori multipel intelegensi mendefinisikan intelegensi manusia sebagai seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah, memungkinkan individu untuk memecahkan masalah atau kesulitan yang dia temukan, jika tepat, menciptakan produk yang efektif, dan juga harus secara potensial menemukan atau menciptakan masalah. Di sana terbentang latar belakang untuk memperoleh pengetahuan baru.
Dia mengidentifikasi 8 intelegensi, yaitu: kebahasaan, musik, matematika logika, tempat, kinestetik, naturalis, intrapersonal, dan interpersonal (hubungan antar sesama).
d. Penelitian otak adalah penelitian untuk pola-pola yang bermakna.
Otak manusia merupakan serangkaian sistem syarat yang berstruktur. Kemampuannya yang luar biasa dapat menghubung-hubungkan berbagai ide yang tak terbatas, dan kemampuan itu akan terus meningkat dengan pola-pola pelatihan yang bermakna.
e. Pembelajaran adalah pemerolehan program mental yang berguna
Hart (1983) mendeskripsikan pembelajaran sebagai proses dua bagian yang melibatkan keturunan dan latihan yang bermakna dan pemerolehan program-program mental. Untuk mengenali pelatihan seseorang harus bisa mendeteksi atributnya, karakteristik yang membedakan satu objek atau tindakan dari yang lainnya. Apa perbedaan lari dan berjalan? Bagaimana saudara mengetahuinya? Setiap kata kerja dan kata benda dalam bahasa Inggris menyajikan pola
f. Kepribadian (karakter dasar seseorang)
Perbedaan kepribadian memiliki pengaruh pada pembelajaran. Keirsey dan Bates (1984) mendeskripsikan kerangka yang berguna untuk mencari pengaruh pilihan-pilihan kepribadian. Diungkapkan oleh Jung, Kiersey, dan Bates mengidentifikasi empat tipe orientasi yang luas terhadap informasi baru dari orang lain, beberapa yang lebih cocok daripada lainnya untuk perlengkapan sekolah tradisional. Empat tipe tersebut dipaparkan sebagai empat karakter seperti ditunjukkan dalam Fig. Manusia bisa belajar tingkah laku, tetapi mempunyai pilihan-pilihan yang kuat ketika mereka mendapatkan situasi baru atau ketika menemukan informasi pembelajaran baru.
Berdasarkan ciri-ciri utama ITI di atas, kiranya model pembelajaran yang dikembangkan oleh Susan J. Kavolik dan Jane R. McGeehan dapat diaplikasikan ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pembelajaran menulis surat dinas.
2. Pembelajaran Menulis Surat Dinas
Ada beberapa model “ITI Classroom”. Salah satu model kelas Pembelajaran Tematik Terpadu yang relevan untuk pembelajaran menulis surat dinas adalah kelas ITI dengan urutan pembelajaran “ada di sana, konsep, bahasa, dan penerapan nyata”.
a. Ada di Sana
Pada tahap ini guru mengajak peserta didik ke suatu tempat yang dapat memperkaya pengalaman siswa mengenai penulisan surat dinas. Siswa perlu diberi pengalaman-pengalaman yang bermakna karena pengalaman yang seperti itu sangat berfungsi untuk meningkatkan kecerdasan mereka.
Tempat yang relevan untuk memperkaya pengalaman menulis surat dinas adalah perkantoran khususnya ruang administrasi atau tata usaha. Di ruang itu siswa dapat mengamati dan menggali informasi tentang ihwal penulisan surat dinas.
b. Konsep
Di tempat yang memungkinkan siswa menggali informasi yang sejelas-jelasnya, seperti ruang tata usaha, siswa dapat membentuk dan mengembangkan konsep tentang topik yang dipelajari, yakni menulis surat dinas. Siswa dapat melihat berbagai jenis surat dinas, dapat mengamati ciri-cirinya, penulisan nomor suratnya, dan unsure yang lainnya.
Di tempat itu pula siswa dapat memanfaatkan kepala tata usaha atau karyawan kantor itu sebagai nara sumber yang dapat memberikan penjelasan mengenai berbagai informasi yang diperlukan siswa tentang penulisan surat dinas.
Dengan demikian, siswa mempunyai bahan untuk sharing dengan teman terutama dengan gurunya mengenai surat dinas. Akibatnya, siswa akan mempunyai konsep yang mantap karena diperoleh atau dibangun dengan berbagai cara dan sumber.
c. Bahasa
Di tempat mereka yang baru siswa berinteraksi dengan para karyawan kantor. Di sana peserta didik belajar bersosialisasi. Ada beberapa nilai yang dapat dikembangkan dalam peristiwa itu, di antaranya kesantunan berbahasa dan bersikap, menghargai orang lain, membandingkan apa yang dipelajari di sekolah dengan yang dilakukan dengan orang dewasa dalam pekerjaan mereka (menumbuhkan apresiasi terhadap profesi), dan bekerja sama.
Semua aktivitas siswa tidak lepas dari praktik berbahasa, baik sekadar untuk berkomunikasi maupun untuk menggali ilmu pengetahuan.
d. Penerapan Nyata
Pengalaman yang sangat berharga dalam model Integrated Thematic Instruction (ITI) ini adalah terlibatnya siswa dalam pengalaman yang nyata untuk menerapkan konsep yang diperoleh dalam aktivitas yang sebenarnya.
Di sana siswa dapat Praktik Kerja Lapangan. Mereka dapat dilibatkan untuk benar-benar bekerja (praktik) membantu para karyawan untuk membuat surat dinas, dan dilibatkan pula dalam proses pengurusan legalisasi surat, serta pengarsipannya.
Melalui penerapan dalam dunia (lingkungan) yang sebenarnya seperti itu, siswa merasa percaya diri bahwa mereka mampu berbuat seperti apa yang dilakukan orang dewasa. Tertanamnya sikap mental yang seperti itu merupakan modal yang sangat berguna bagi para siswa untuk terus belajar mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Surat dinas yang dihasilkan (produk) merupakan pengalaman yang sangat berkesan dan merupakan wujud pelatihan menyelesaikan masalah yang merupakan manifestasi pengembangan kecerdasan siswa.
3. Penutup
ITI merupakan model pembelajaran mata pelajaran Biologi yang dikembangkan oleh Susan J. Kavolik dan Jane R. MacGeehan yang dapat diaplikasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pembelajaran menulis surat dinas. Langkah-langkah pembelajaran surat dinas berdasarkan pembelajaran model ITI terdiri atas empat tahap. Pertama, ada di sana, yakni menempatkan siswa di lokasi yang mampu memberinya pengalaman yang berarti. Kedua, konsep, merupakan tahap pembentukan dan pengembangan konsep tentang topik yang dipelajari. Ketiga, bahasa, merupakan penggunaaan bahasa dengan memperhatikan segala konteksnya. Keempat, penerapan nyata, adalah praktik kerja nyata yang dilakukan siswa di tempat belajarnya yang baru.
DALAM PEMBELAJARAN MENULIS SURAT DINAS
1. Latar Belakang
Integrated thematic Instruction (ITI) merupakan model pembelajaran yang dikembangkan oleh Susan J. Kavolik dan Jane R. McGeehan yang diaplikasikan dalam mata pelajaran Biologi. ITI merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan hasil penelitian mengenai perkembangan otak manusia. Oleh karena itu, pembelajaran ini terfokus pada pengembangan nilai-nilai yang mengarah pada pengembangan kemampuan berpikir dan berolah rasa yang mereka sebut “bodybrain basics”. Di dalam “bodybrain basics” terdapat enam konsep nilai yang utama.
a. Emosi adalah pintu gerbang pembelajaran dan performansi
Sylwester (1995) mengungkapkan situasi secara jelas dalam bukunya ini A Celebration of Neurons, “Kita tahu bahwa emosi sangat penting pada proses pendidikan karena emosi tersebut menggerakkan perhatian, yang mengarah pada pembelajaran dan memori. Sensori data masuk ke otak dari sel melalui badan yang dimunculkan oleh struktur otak dirancang untuk mendeteksi bahaya imminent. Le Doux (1996) menjelaskan bahwa pelayanan yang memungkinkan pada keselamatan atau kelangsungan dideteksi secara tak sadar. Otak dipicu oleh amygdala, sebuah struktur di dalam sistem otak. Sylwester menganjurkan bahwa kita mempertimbangkan sistem amygdala otak kita.
b. Kecerdasan adalah berfungsinya pengalaman
Salah satu pengumuman yang paling mengejutkan dari penelitian pembelajaran biologi adalah bahwa alam dan pemeliharaan merupakan patner yang tak terpisahkan. Sebuah kelahiran baru tiba dengan neural dasar untuk mengatasi gerak reflek seperti menghisap. Chugani dan peneliti lainnya menggunakan prosedur dan teknologi baru yang sudah tersedia, seperti dilaporkan oleh Begley (1997) untuk mendemonstrasikan bahwa pengalaman di dunia setelah kelahiran, otak dipersiapkan untuk tugas-tugas kehidupan. Penemuan yang menarik perhatian diterapkan pada anak yang berumur 3 tahun untuk belajar hal-hal yang baru dalam kehidupan. Pada usia berapa saja pada saat pengalaman dikonfrontasikan, otak mulai proses perekrutan neuron dan tumbuh dendrites, untuk berkomunikasi antara neuron-neuron di tempat yang berbeda pada otak tersebut.
Dirangsang oleh lingkungan, hubungan antara neuron meningkat seperti dijelaskan oleh Diamond (1998). Otak menjadi lebih padat dan lebih berat. Pertumbuhan ini memungkinkan pelajar untuk menghubungkan ide untuk memiliki pemahaman yang baik (penuh) menjadi lebih pandai. Perkins (1995) menyarankan kita akan menyaksikan sebuah revolusi pemahaman kita pada kecerdasan intelegensi, dan revolusi ini memiliki karakter yang bisa disimpan kembali. Perkins mengatakan bahwa kita tidak dibatasi oleh genetik keturunan. Sebaliknya, kecerdasan adalah sesuatu yang dapat dibajak, dioleh, dan diperoleh. Orang dapat belajar untuk berpikir dan bertindak secara lebih cerdas.
c. Manusia dalam seluruh kebudayaannya menggunakan intelegensi untuk menyelesaikan permasalahan dan menciptakan produk.
Manusia mempergunakan kecerdasannya untuk menyelesaikan masalah menghasilkan produk. Gardner’s (1983) melalui teori multipel intelegensi mendefinisikan intelegensi manusia sebagai seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah, memungkinkan individu untuk memecahkan masalah atau kesulitan yang dia temukan, jika tepat, menciptakan produk yang efektif, dan juga harus secara potensial menemukan atau menciptakan masalah. Di sana terbentang latar belakang untuk memperoleh pengetahuan baru.
Dia mengidentifikasi 8 intelegensi, yaitu: kebahasaan, musik, matematika logika, tempat, kinestetik, naturalis, intrapersonal, dan interpersonal (hubungan antar sesama).
d. Penelitian otak adalah penelitian untuk pola-pola yang bermakna.
Otak manusia merupakan serangkaian sistem syarat yang berstruktur. Kemampuannya yang luar biasa dapat menghubung-hubungkan berbagai ide yang tak terbatas, dan kemampuan itu akan terus meningkat dengan pola-pola pelatihan yang bermakna.
e. Pembelajaran adalah pemerolehan program mental yang berguna
Hart (1983) mendeskripsikan pembelajaran sebagai proses dua bagian yang melibatkan keturunan dan latihan yang bermakna dan pemerolehan program-program mental. Untuk mengenali pelatihan seseorang harus bisa mendeteksi atributnya, karakteristik yang membedakan satu objek atau tindakan dari yang lainnya. Apa perbedaan lari dan berjalan? Bagaimana saudara mengetahuinya? Setiap kata kerja dan kata benda dalam bahasa Inggris menyajikan pola
f. Kepribadian (karakter dasar seseorang)
Perbedaan kepribadian memiliki pengaruh pada pembelajaran. Keirsey dan Bates (1984) mendeskripsikan kerangka yang berguna untuk mencari pengaruh pilihan-pilihan kepribadian. Diungkapkan oleh Jung, Kiersey, dan Bates mengidentifikasi empat tipe orientasi yang luas terhadap informasi baru dari orang lain, beberapa yang lebih cocok daripada lainnya untuk perlengkapan sekolah tradisional. Empat tipe tersebut dipaparkan sebagai empat karakter seperti ditunjukkan dalam Fig. Manusia bisa belajar tingkah laku, tetapi mempunyai pilihan-pilihan yang kuat ketika mereka mendapatkan situasi baru atau ketika menemukan informasi pembelajaran baru.
Berdasarkan ciri-ciri utama ITI di atas, kiranya model pembelajaran yang dikembangkan oleh Susan J. Kavolik dan Jane R. McGeehan dapat diaplikasikan ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pembelajaran menulis surat dinas.
2. Pembelajaran Menulis Surat Dinas
Ada beberapa model “ITI Classroom”. Salah satu model kelas Pembelajaran Tematik Terpadu yang relevan untuk pembelajaran menulis surat dinas adalah kelas ITI dengan urutan pembelajaran “ada di sana, konsep, bahasa, dan penerapan nyata”.
a. Ada di Sana
Pada tahap ini guru mengajak peserta didik ke suatu tempat yang dapat memperkaya pengalaman siswa mengenai penulisan surat dinas. Siswa perlu diberi pengalaman-pengalaman yang bermakna karena pengalaman yang seperti itu sangat berfungsi untuk meningkatkan kecerdasan mereka.
Tempat yang relevan untuk memperkaya pengalaman menulis surat dinas adalah perkantoran khususnya ruang administrasi atau tata usaha. Di ruang itu siswa dapat mengamati dan menggali informasi tentang ihwal penulisan surat dinas.
b. Konsep
Di tempat yang memungkinkan siswa menggali informasi yang sejelas-jelasnya, seperti ruang tata usaha, siswa dapat membentuk dan mengembangkan konsep tentang topik yang dipelajari, yakni menulis surat dinas. Siswa dapat melihat berbagai jenis surat dinas, dapat mengamati ciri-cirinya, penulisan nomor suratnya, dan unsure yang lainnya.
Di tempat itu pula siswa dapat memanfaatkan kepala tata usaha atau karyawan kantor itu sebagai nara sumber yang dapat memberikan penjelasan mengenai berbagai informasi yang diperlukan siswa tentang penulisan surat dinas.
Dengan demikian, siswa mempunyai bahan untuk sharing dengan teman terutama dengan gurunya mengenai surat dinas. Akibatnya, siswa akan mempunyai konsep yang mantap karena diperoleh atau dibangun dengan berbagai cara dan sumber.
c. Bahasa
Di tempat mereka yang baru siswa berinteraksi dengan para karyawan kantor. Di sana peserta didik belajar bersosialisasi. Ada beberapa nilai yang dapat dikembangkan dalam peristiwa itu, di antaranya kesantunan berbahasa dan bersikap, menghargai orang lain, membandingkan apa yang dipelajari di sekolah dengan yang dilakukan dengan orang dewasa dalam pekerjaan mereka (menumbuhkan apresiasi terhadap profesi), dan bekerja sama.
Semua aktivitas siswa tidak lepas dari praktik berbahasa, baik sekadar untuk berkomunikasi maupun untuk menggali ilmu pengetahuan.
d. Penerapan Nyata
Pengalaman yang sangat berharga dalam model Integrated Thematic Instruction (ITI) ini adalah terlibatnya siswa dalam pengalaman yang nyata untuk menerapkan konsep yang diperoleh dalam aktivitas yang sebenarnya.
Di sana siswa dapat Praktik Kerja Lapangan. Mereka dapat dilibatkan untuk benar-benar bekerja (praktik) membantu para karyawan untuk membuat surat dinas, dan dilibatkan pula dalam proses pengurusan legalisasi surat, serta pengarsipannya.
Melalui penerapan dalam dunia (lingkungan) yang sebenarnya seperti itu, siswa merasa percaya diri bahwa mereka mampu berbuat seperti apa yang dilakukan orang dewasa. Tertanamnya sikap mental yang seperti itu merupakan modal yang sangat berguna bagi para siswa untuk terus belajar mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Surat dinas yang dihasilkan (produk) merupakan pengalaman yang sangat berkesan dan merupakan wujud pelatihan menyelesaikan masalah yang merupakan manifestasi pengembangan kecerdasan siswa.
3. Penutup
ITI merupakan model pembelajaran mata pelajaran Biologi yang dikembangkan oleh Susan J. Kavolik dan Jane R. MacGeehan yang dapat diaplikasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pembelajaran menulis surat dinas. Langkah-langkah pembelajaran surat dinas berdasarkan pembelajaran model ITI terdiri atas empat tahap. Pertama, ada di sana, yakni menempatkan siswa di lokasi yang mampu memberinya pengalaman yang berarti. Kedua, konsep, merupakan tahap pembentukan dan pengembangan konsep tentang topik yang dipelajari. Ketiga, bahasa, merupakan penggunaaan bahasa dengan memperhatikan segala konteksnya. Keempat, penerapan nyata, adalah praktik kerja nyata yang dilakukan siswa di tempat belajarnya yang baru.
TEORI RENCANA PEMBELAJARAN LANDAMATIKS DAN METODOLOGI UNTUK MENGAJAR METODE UMUM BERPIKIR
Landamatiks bukan teori pembelajaran dan pengajaran bagaimana mengajarkan sebuah atau beberapa topik khusus, konsep, atau keterampilan. Landamatik juga bukan rencana pelajaran yang efektif. Lebih tepat, Landamatik adalah metode umum (atau metodologi) sebuah bentuk pendekatan yang memberikan petunjuk secara efektif di dalam petunjuk perencanaan pembelajaran, apakah tugas mengajar pengetahuan suatu gejala yang nyata, atau analisis visual (pengamatan) sebuah objek yang nyata, atau strategi berfikir, atau yang lainnya.
Secara tepat bab ini berisi rumusan atau gambaran yang memberi contoh metode Landamatik pada pengajaran metode umum berfikir. Untuk mencapai tantangan pembelajaran akan dijelaskannya, apa mengajar dan bagaimana mengajar adalah hal yang pokok dalam Landamatik.
Untuk menjelaskan maksud, kami memilih bab ini sebagai metode yang luar biasa untuk berpikir, sebuah metode yang mengidentifikasi objek yang memiliki kelas atau tidak di dalam konsep dasar untuk mendefinisikannya. Di dalam bab berikutnya dijelaskan cara (metode) yang akan memberikan gambaran kesimpulan tentang objek pelengkap dan hubungannya dengan objek lain. Karena proses mengidentifikasi hanya digunakan untuk untuk mengajar beberpa cara yang menerpakan pengetahuan, kami akan selalu menggunakan sebuah batasan yang luas, ”sebuah metode untuk menerapkan pengetahuan”.
Pengajaran Umum Proses Kognitif sebagai Satu tujuan yang Sangat Penting dalam Pendidikan
Pada jaman sekarang perubahan pengetahuan sangat cepat. Apa yang kita pelajari saat ini mungkin sudah ketinggalan jaman. Tetapi, apakah proses pemerolehan dan penerapan pengetahuan bertambah baik atau tidak? Atau lebih jelas, apakan mereka mengubah dengan cepat pengetahaun yang membuat cara mendapatkannya dengan kemanusiaan? Jawabnya, tidak.
Beberapa ahli dalam bidang ilmu pengetahuan dan praktisi mempelajari bagaimana keefektifan memperoleh dan menerapkan pengetahuan, menggunakannya secara benar seperti pengambilan dan proses pengetahuan untuk belajar dan memakai bermacam-macam pengetahuan. Proses ini untuk membedakan bermacam-macam pengetahuan, seperti pengetahuan tentang kenyataan yang berlawanan dengan pengetahuan tentang hukum alam. Dengan perbedaan ini dapat dijadikan sebagai dasar penialaian, namun proses ini sama dengan memperhatikan pemahaman dan permasalahan-permasalahan yang ada.
Jika kami menerima bagian pembelajaran bagaimana memperoleh dan menerapkan pengetahuan lebih penting dari pembelajaran pengetahuan dasar (dan mungkin lebih penting daripada pembelajaran pengetahuan khusus yang dapat menjadikannya hal yang tetap), kemudian dalam pembelajaran siswa dalam proses kognitif umum dan menerima metode yang dapat mengembalikan satu kritika tujuan pendidikan.
Kejanggalan Situasi dalam Pendidikan
Suatu kejanggalan yang terdapat di sekolah: anak diminta untuk mengidentifikasi objek, menjelasan pemikirannya, membuat kesimpulan, membuktikan pernyataan, dan lain sebagainya. Tetapi tidak diajari dan tidak diberi tahu apa itu identifikasi, bagaimana memecahkannya, bagaimana membuat rangkuman, bagaimana membuktikan pernyataan, dan lain-lain. Hal ini bukan suatu kekurangan dalam hal mendefinisikan secara formal, tetapi kekurangan penegtahaun tentang proses mental dan sistemnya, serta menggunakannya proses ini.
Metode
Pengertian Metode
Beberapa definisi metode dalam filsafat dan literatur ilmu pengetahuan sering kacau dan berbeda antara satu ilmu dengan ilmu yang lain, misalnya penggunaan istilah metode dalam bahasa sehari-hari.
Metode menurut semantik diartikan dua macam, yaitu 1) tindakan yang membahas pemecahan masalah atau tugas, 2) aturan yang menegaskan untuk mengerjakan suatu tindakan. Untuk membedakan dua pengertian tersebut, kami akan menunjukan metode sebagai sistem tindakan yang di lambangkan dengan M¬a, dan metode sebagai sistem aturan yang dilambangkan dengan Mp. Pada umumnya, cara untuk menyelesaikan masalah baru atau tugas baru, anak pertama Ma dan kemudian baru mengubahnya menjadi Mp.
Kami mendefinisikan metode sebagai bentuk sistem pembelajaranatau kegiatan untuk mencapai suatu tujuan. Definisi menunjukan adanya karakteristik yang penting dari pengertian metode:
1. Metode adalah sistem pembelajaran,
2. Metode adalah kesatua struktur yang tetap dari dasar pembelajaran, dfan
3. Metode selalu berorientasi pada tujuan.
Dalam bahasa sehari-hari pengertian metode sering diartikan sebagai bagian dari proses, prosedur, bimbingan, teknik, strategi, dan yang lainnya. Permasalahannya berdasarkan pengertian tersebut menjadi ambigu.
Dari dulu konsep, proposisi, dan metode adalah pembangun kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan gejala nyata kemasyarakatan dalam bahasa. Dalam situasi belajar menunjukkan adanya gejala psikologi subjektif yang merupakan bagian dari gejala sosial subjektif. Metode subjektif boleh dan tidak boleh menyesuaikan diri dengan metode objektif. Oleh karena itu, hal yang penting dalam pendidikan adalah masalah metode pembelajaran yang selalu memberi jalan pada metode subjektif yang akan membentuk pola pikir siswa yang lebih efektif.
Hubungan Antara Metode (Cara) dengan Keterampilan
Meskipun kenyataan metode dan keterampilan tidak sama, perbedaan ini dilihat dari gejala psikologi. Kenyataan ini dapat dicontohkan pada kegiatan berenang. Orang yang mengetahui apa yang harus dilakukan dalam kegiatan berenang, belum tetntu ia dapat melakukan kegiatan berenang. Hal ini jelas perbedaan antara pengetahuan atau cara melakukan sesuatu dengan keterampilan untuk melakukan sesuatu.
Namun, kenyataannya antar sistem tindakan dan keterampilan melakukan tindakan memiliki hubungan langsung. Sistem tindakan sebagai kemampuan untuk memahami sesuatu tindakan sebagai proses psikologi dan menghubung-hubungkan dalam bagan otak manusia. Kemampuan melakukan tindakan (skill) terbentuk berdasarkan pemahaman suatu tindakan yang telah ditata dalam otak manusia.
Perbedaan antara kedua kemampuan tersebut memerlukan suatu metode tertentu. Sebuah metode pengajaran untuk mengetahui kemampuan secara verbal dan untuk membentuk pengoperasiannya (baik secara fisik maupun mental). Situasi yang dapat diperoleh yang ditempatkan di sekolah dan kehidupan nyata adalah:
1. Siswa memahami cara-cara dan dapat melakukan sesuai dengan petunjuknya.
2. Siswa memahami cara-caranya, tetapi tidak dapat melakukannya , contoh siswa mengetahui cara berenang, tetapi tidak bisa berenang,
3. Siswa tidak memahami cara-caranya, tetapi dapat melakukan sesuai dengan petunjuknya, contoh siswa yang bisa berenang, tetapi tidak bisa menjelaskanapa yang dilakukan atau merumuskan suatu sistem hasil pekerjaan.
4. Siswa tidak memahami cara-caranya, dan tidak dapat melakukan sesuai petunjuknya.
Kegagalan Mengajar dengan Metode Umum Berfikir dalam Pembelajaran Konvensional.
Masalah yang sering kita jumpai ketika guru mengajar adalah menyuruh siswa untuk memecahkan masalah, tanpa mengetahuai atau tidak memperhatikan tipe pelajarannya. Semua kelas disamakan. Hal ini tidak benar karena tidak melibatkan pola pikir dan potensi siswa.
Maka, Dr. Zykova, menjelaskan pelajaran geometri pada Moscow School. Dr. Zykova menjelaskan apa yang dilakuakn guru dan apa yang dilakukan siswa, yaitu:
Kegiatan Pembelajaran 1
Guru menjelaskan beberapa bentuk segitiga dan menjelaskan ciri-cirinya. Selanjutnya guru berkata bahwa pada hari ini kita akan mempelajari segitiga siku-siku dan definisinya (”Segitiga siku-siku adalah segitiga yang memiliki sudut 900).
Kegiatan Pembelajaran 2
Gur menunjukkan sgitiga siku-siku dengan memberikan beberpa ilustrasi atau gambaran yang menerangkan konsep tersebut.
Kegiatan Pembelajaran 3
Guru melengkapi dengan praktik, siswa mempelajari konsep segitiga siku-siku dan bagaimanamenerapkannya:
• Guru berkata kepada siswa tentang pengertian segitiga. Saebagian siswa mengoreksinya.
• Guru berkata kepada siswa untuk memberi contoh gambar segitiga siku-siku di papan tulis. Dua siswa mengoreksinya.
• Guru menunjukkan beberap bangu geometri di papan tulis, di antaranya segitiga siku-siku dan segitiga yang lainnya. Kemudian siswa disuruh menunjukkan mana yang termasuk segitiga siku-siku dan mana yang bukan.
• Guru berkata kepada siswa jika ada yang ingin ditanyakan atau ada yang belum jelas. Siswa menanggapi dengan senang –dalam pengulangan- bahwa semuanya sudah jelas.
Pendekatan Landamatik dalam Pembelajaran
Landamatik menyumbangkan dan memajukan perbedaan bentuk pendekatan yang sudah lazim, konsep, dan proses berfikir dengan sengaja menjelaskan metode pengajaran berfikir (Instruksional Thingking Method).
Pendekatan Landamatik adalah:
1. Membuat hitungan yang banyak, tidak perlu variasi.
2. Adanya jaminan adanya bentuk yang sebenarnya dan cukup lazim.
3. Adanya jaminan pembentukan dasar yang cukup lazim pada pembentukan dalial dan konsep yang tepat.
4. Adanya jaminan pembentukan cara pemerolehan yang efektif dan dapat mengaplikasikan pengetahuannya (ilustrasi, konsep, dan dalil).
5. Adanya jaminan yang cukup luas dan proses pemindahan yang tepat, tidak membatasi pengalaman pada pengetahuan lain dan mengubah mental pada masalah dan situasi yang baru.
6. Adanya jaminan untuk menghilangkan kesalahan dan kekeliruan dalam belajar.
7. Adanya jaminan mengembangkan kemampuan untuk mengatur sendiri, menata sendiri, dan mengontrol sendiri dalam menoperasikan mental.
8. Kemungkinan menyelesaikan semua tugas yang lebih dapat dipercaya dan relatif cepat.
Strategi 1: Disovery (Penemuan) dengan Bimbingan
Pembelajaran dengan menggunakan teknik atau metode penemuan dengan bimbingan meliputi:
Kegiatan Pembelajaran 4,
Perintahkan siswa untuk menemukan dan mengumpulkan tugas dan menyimpulkan dengan nyata sistem operasi mental untuk diaplikasikan pada konsep belajar dan mendefinisikannya. Berilah tugas untuk mengidentifikasi objek yang dimilki atau yang tidak dimiliki kelas.
Kegiatan Pembelajaran 5,
Perintahkan siswa untuk menerangkan rumus yang memberikan sistem pembelajaran:
Kegiatan Pendidikan
1. Bertanyalah kepada siswa rumusan secara lengkap atau beberapa petunjuk (cara ini tidak hanya untuk mengetahui definisi segitiga siku-siku, tetapi siswa bisa menerpakannya pada segitiga lain mana yang termasuk segitiga siku-siku dan mana yang bukan).
2. Jika siswa telah merimuskan cara yang benar, melanjutkan pembelajaran berikutnya, jika belum merencanakan hal tersebut, bagaimana merumuska sebuah metode dengan kegiatan mengenal apakah segitiga siku-siku atau bukan.
Kegiatan Pembelajaran 6,
Melengkapi praktik dengan mengaplikasikan rumusan.
Kegiatan Pendidikan:
1. Katakan pada siswa untuk mengerjakan tugas sekarang, yaitu menerapakan metode formulasi yang digunakan untuk untuk mengenal segitiga siku-siku di antar segitiga yang lain.
2. Tunjukkanlah beberapa variasi segitiga dan membedakannya menurut metode tersebut, memiliki segitiga siku-siku dan yang lain.
3. Rencanakan apa yang harus mereka lakukan dengan cara menggunakan metode setahap demi setahap. Melihat pembelajaran pertamadan mengerjakan apa yang dikatakannya, kemudian melihat pembelajaran yang kedua dan melakukan apa yang dikatakannya. Contoh menurut metode ini siswa mudah mengidentifikasi segitiga siku-siku dengan melihat posisi sudut tegak lurus.
Kegiatan Pembelajaran 7,
Melengkapi dnganmenggunakan metode internalisasi, latihan khusus secar terus menerus untuk menjamin kepandaian secar tuntas.
Kegiatan Pendidikan:
1. Katakan pada siswa bahwa mereka sekiranya tidak banya membutuhksan petunjuk yang terdapat pada papan tulis dan sekiranya mengulangnya pada pembelajaran sendiri.
2. Katakan pada siswa bahwa sekarang kamu akan menghapus petunjuk yang ada di papan tulis dan menunjukkan beberapa segitiga. Mereka harus membedakan segitiga siku-siku dengan memberi petunjuk sendiri seperti petunjuk yang ada di papantulis. Para siswa lebih mudah membentuk semua yang diperlukan dalam kegiatan mental dengan memeberi petunjuk sendiri.
Kegiatan Pembelajaran 8
Efek otomatisasi dengan metode yang melibatkan mental.
Kegiatan Pendidikan
1. Katakan pada siswa bahwa mereka tidak memerlukan kebutuhan selanjutnya dalam petunjuk diri. Mereka sekarang memamhami apa yang dilakukannya dalam mengenal sgitiga siku-siku.
2. Tunjukkan pada siswa sejumlah segitiga di antara yang mereka miliki untuk mendapat segitiga siku-siku. Katakan untuk mendapatkan secara cepat tidak mungkin tanpa memberikan petunjuk diri. Siswa lebih mudah memberi segitiga siku-siku seketika itu juga.
Mekanisme Psikologi pada Metode Internalisasi dan Otomatisasi
Teori Landamatik di dalam belajar dan praktik ada tiga tahap, yaitu:
1. Tahap pertama adalah mempelajari sebuah cara (metode) dari apa yang ada di luar sebagai bentuk pelajarana (bisa berupa catatan atau elektronik).
2. Tahap kedua adalah mengoperasikan ke dalam bentuk dari dalam diri melalui petunjuk sendiri. Ini adalah tahap internalisasi.
3. Tahap ketiga adalah mewujudkan kebutuha beberpa petunjuk yang hilang dan mulai menoperasikannya yang disesuaikan dengan tujuan dan permasalahan sendiri. Ini adalah tahap otomatisasi.
Strategi 2: Pengajaran Ekspositori
Dengan strategi 2, Siswa memiliki konsep segitiga siku-siku, bentuk lain dari segitiga, dan mendefinisikannya (seperti pada strategi 1), dalam hal ini guru semata-mata hanya mengajar semua pengetahuannya pada siswa yang sudah siap (dengan mengilustrasikan dan latiahn)
Strategi 3: Kombinasi Strategi
Dengan strategi ini, berfikirlah pada sebuah topik pembelajaran yang menggunakan strategi dirkoveri (penemuan), dan tentu berfikir lain pada pengajaran untuk melengkapi pengetahuan dalam bentuk yang sudah siap. Pilihan topik yang mengharuskan atau tidak mungkin hanya dengan pengajaran atau strategi, namun memerlukan beberapa strategi. Ini adalah faktor yang menentukan keobjektifan guru yang memberikan kesempatan dang dengan keuntungan dari metode yang lengkap tersebut.
Pembahasan Tingkatan Umum pada Metode
Metode yang digunakan untuk mendefinisikan segitiga siku-siku adalah metode umum yang diterapkan untuk beberap segitiga siku-siku, tapi apakah bisa suatu saat metode tersebut diaplikasikan pada poko bahasan lain? Apakah mungkin menjadi lebih umum? Jawabnya, bisa.
Dengan contoh sebagai titik awal, kami akan menggunakan metode yang sudah digunakan untuk mengidentifikasi segitiga siku-siku. Metode tersebut sebgai metode tingkat paling rendah (awal) disebut d1, metode pada tingkat berikutnya disebut d2, misalkan untuk menjelaskan belah ketupat.
Perhatikan perbedaan antara d1 dengan d2 yang dijelaskan pada tabel berikut:
Metode 1 (d1) Metode 2 (d2)
Digunakan untuk mengidentifikasi segitiga siku-siku.
1. Menunjukkan identitas segitiga siku-siku, yaitu segitiga yang memiliki sudut 900.
2. Berfikir dengan sunguh-sungguh untuk menandai beberapa segitiga dan melihat apakaha memiliki sudut 900.
3. Buatlah kesimpulan seperti berikut:
a. Jika segitiga memiliki sudut 900, maka disebut segitiga siku-siku.
b. Jika segitiga tidak memiliki sudut 900 maka bukan segitiga siku-siku. Digunakan untuk mengidentifikasi objek seperti d1 atau bukan pada kelas yang nyata.
1. Menunjukkan definisi pada kelas dan memisahkan berdasrkan sifat.
2. Berfikir dengan sungguh-sungguh untuk menandai beberapa objek dan melihat tanda dari semuanya.
3. Buatlah kesimpulan seperti berikut:
a. Jika objek memiliki tanda yang sma sebagai definisi, maka dikelompokan dalam kelas yang sama.
b. Jika objek memiliki tanda yang berbeda sebagai definisi, maka bukan objek yang berkelas sama.
Mungkinkah Metode 2 Selalu Dapat Digunakan?
Tidak selamanya metode 2 dapat digunakan. Pada pekerjaan yang hanya menggunakan konjungsi (hubungan), kita bisa menggunakan metode 2 tersebut. Namun, jika pekerjaan yang memiliki hubungan terpisah (disjunctive), maka metode 2 ini tidak bisa digunakan. Oleh karena itu, kita perlu menggunakan metode lain yaitu metode 3.
Untuk memperjeles keterangan ini, berikut ini dijeaskan perbedaan metode 2 dengan metode 3 dalam tabel berikut:
Metode 2
(untuk konsep yang berhubungan) Metode 3
(untuk konsep yang terpisah)
Identifikasi objek yang sama dan tidak sama pada kelas yang nyata.
1. Tunjukkan definisi pada suatu kelas dan pisahkan berdasarkan penanda sifat.
2. Pikirkan dengan sungguh-sungguh penanda yang diberikan pada beberapa objek dan amati semuanya.
3. Buatlah kesimpulan sebagai berikut:
a. Jika sebuah objek menandai kesamaan sebagai definisi, maka objek tersebut dimasukkan ke dalam objek yang memiliki kesamaan tersebut.
b. Jika sebuah objek tidak memiliki kesamaan penanda sedikit pun, maka tidak dimasukkan dalam kelas yang seobjek. Identifikasi objek yang sama dan tidak sama pada kelas yang nyata.
1. Tunjukkan definisi pada suatu kelas dan pisahkan berdasarkan penanda sifat.
2. Pikirkan dengan sunguh-sungguh penanda dari beberap objek dan telitilah penanda yang paling kecil atau sedikit.
3. Buatlah kesimpulan seperti berikut:
a. Jika sebuah objek memiliki penanda paling kecil (sedikit) sebagai definisi, maka dikelompokkan dalam kelas pada objek yang sedefinisi.
b. Jika tidak memeliki semua penanda, maka tidak dikelompokkan pada kelas yang memiliki definisi objek yang sama.
Landamatiks bukan teori pembelajaran dan pengajaran bagaimana mengajarkan sebuah atau beberapa topik khusus, konsep, atau keterampilan. Landamatik juga bukan rencana pelajaran yang efektif. Lebih tepat, Landamatik adalah metode umum (atau metodologi) sebuah bentuk pendekatan yang memberikan petunjuk secara efektif di dalam petunjuk perencanaan pembelajaran, apakah tugas mengajar pengetahuan suatu gejala yang nyata, atau analisis visual (pengamatan) sebuah objek yang nyata, atau strategi berfikir, atau yang lainnya.
Secara tepat bab ini berisi rumusan atau gambaran yang memberi contoh metode Landamatik pada pengajaran metode umum berfikir. Untuk mencapai tantangan pembelajaran akan dijelaskannya, apa mengajar dan bagaimana mengajar adalah hal yang pokok dalam Landamatik.
Untuk menjelaskan maksud, kami memilih bab ini sebagai metode yang luar biasa untuk berpikir, sebuah metode yang mengidentifikasi objek yang memiliki kelas atau tidak di dalam konsep dasar untuk mendefinisikannya. Di dalam bab berikutnya dijelaskan cara (metode) yang akan memberikan gambaran kesimpulan tentang objek pelengkap dan hubungannya dengan objek lain. Karena proses mengidentifikasi hanya digunakan untuk untuk mengajar beberpa cara yang menerpakan pengetahuan, kami akan selalu menggunakan sebuah batasan yang luas, ”sebuah metode untuk menerapkan pengetahuan”.
Pengajaran Umum Proses Kognitif sebagai Satu tujuan yang Sangat Penting dalam Pendidikan
Pada jaman sekarang perubahan pengetahuan sangat cepat. Apa yang kita pelajari saat ini mungkin sudah ketinggalan jaman. Tetapi, apakah proses pemerolehan dan penerapan pengetahuan bertambah baik atau tidak? Atau lebih jelas, apakan mereka mengubah dengan cepat pengetahaun yang membuat cara mendapatkannya dengan kemanusiaan? Jawabnya, tidak.
Beberapa ahli dalam bidang ilmu pengetahuan dan praktisi mempelajari bagaimana keefektifan memperoleh dan menerapkan pengetahuan, menggunakannya secara benar seperti pengambilan dan proses pengetahuan untuk belajar dan memakai bermacam-macam pengetahuan. Proses ini untuk membedakan bermacam-macam pengetahuan, seperti pengetahuan tentang kenyataan yang berlawanan dengan pengetahuan tentang hukum alam. Dengan perbedaan ini dapat dijadikan sebagai dasar penialaian, namun proses ini sama dengan memperhatikan pemahaman dan permasalahan-permasalahan yang ada.
Jika kami menerima bagian pembelajaran bagaimana memperoleh dan menerapkan pengetahuan lebih penting dari pembelajaran pengetahuan dasar (dan mungkin lebih penting daripada pembelajaran pengetahuan khusus yang dapat menjadikannya hal yang tetap), kemudian dalam pembelajaran siswa dalam proses kognitif umum dan menerima metode yang dapat mengembalikan satu kritika tujuan pendidikan.
Kejanggalan Situasi dalam Pendidikan
Suatu kejanggalan yang terdapat di sekolah: anak diminta untuk mengidentifikasi objek, menjelasan pemikirannya, membuat kesimpulan, membuktikan pernyataan, dan lain sebagainya. Tetapi tidak diajari dan tidak diberi tahu apa itu identifikasi, bagaimana memecahkannya, bagaimana membuat rangkuman, bagaimana membuktikan pernyataan, dan lain-lain. Hal ini bukan suatu kekurangan dalam hal mendefinisikan secara formal, tetapi kekurangan penegtahaun tentang proses mental dan sistemnya, serta menggunakannya proses ini.
Metode
Pengertian Metode
Beberapa definisi metode dalam filsafat dan literatur ilmu pengetahuan sering kacau dan berbeda antara satu ilmu dengan ilmu yang lain, misalnya penggunaan istilah metode dalam bahasa sehari-hari.
Metode menurut semantik diartikan dua macam, yaitu 1) tindakan yang membahas pemecahan masalah atau tugas, 2) aturan yang menegaskan untuk mengerjakan suatu tindakan. Untuk membedakan dua pengertian tersebut, kami akan menunjukan metode sebagai sistem tindakan yang di lambangkan dengan M¬a, dan metode sebagai sistem aturan yang dilambangkan dengan Mp. Pada umumnya, cara untuk menyelesaikan masalah baru atau tugas baru, anak pertama Ma dan kemudian baru mengubahnya menjadi Mp.
Kami mendefinisikan metode sebagai bentuk sistem pembelajaranatau kegiatan untuk mencapai suatu tujuan. Definisi menunjukan adanya karakteristik yang penting dari pengertian metode:
1. Metode adalah sistem pembelajaran,
2. Metode adalah kesatua struktur yang tetap dari dasar pembelajaran, dfan
3. Metode selalu berorientasi pada tujuan.
Dalam bahasa sehari-hari pengertian metode sering diartikan sebagai bagian dari proses, prosedur, bimbingan, teknik, strategi, dan yang lainnya. Permasalahannya berdasarkan pengertian tersebut menjadi ambigu.
Dari dulu konsep, proposisi, dan metode adalah pembangun kemasyarakatan dan ilmu pengetahuan. Hal ini merupakan gejala nyata kemasyarakatan dalam bahasa. Dalam situasi belajar menunjukkan adanya gejala psikologi subjektif yang merupakan bagian dari gejala sosial subjektif. Metode subjektif boleh dan tidak boleh menyesuaikan diri dengan metode objektif. Oleh karena itu, hal yang penting dalam pendidikan adalah masalah metode pembelajaran yang selalu memberi jalan pada metode subjektif yang akan membentuk pola pikir siswa yang lebih efektif.
Hubungan Antara Metode (Cara) dengan Keterampilan
Meskipun kenyataan metode dan keterampilan tidak sama, perbedaan ini dilihat dari gejala psikologi. Kenyataan ini dapat dicontohkan pada kegiatan berenang. Orang yang mengetahui apa yang harus dilakukan dalam kegiatan berenang, belum tetntu ia dapat melakukan kegiatan berenang. Hal ini jelas perbedaan antara pengetahuan atau cara melakukan sesuatu dengan keterampilan untuk melakukan sesuatu.
Namun, kenyataannya antar sistem tindakan dan keterampilan melakukan tindakan memiliki hubungan langsung. Sistem tindakan sebagai kemampuan untuk memahami sesuatu tindakan sebagai proses psikologi dan menghubung-hubungkan dalam bagan otak manusia. Kemampuan melakukan tindakan (skill) terbentuk berdasarkan pemahaman suatu tindakan yang telah ditata dalam otak manusia.
Perbedaan antara kedua kemampuan tersebut memerlukan suatu metode tertentu. Sebuah metode pengajaran untuk mengetahui kemampuan secara verbal dan untuk membentuk pengoperasiannya (baik secara fisik maupun mental). Situasi yang dapat diperoleh yang ditempatkan di sekolah dan kehidupan nyata adalah:
1. Siswa memahami cara-cara dan dapat melakukan sesuai dengan petunjuknya.
2. Siswa memahami cara-caranya, tetapi tidak dapat melakukannya , contoh siswa mengetahui cara berenang, tetapi tidak bisa berenang,
3. Siswa tidak memahami cara-caranya, tetapi dapat melakukan sesuai dengan petunjuknya, contoh siswa yang bisa berenang, tetapi tidak bisa menjelaskanapa yang dilakukan atau merumuskan suatu sistem hasil pekerjaan.
4. Siswa tidak memahami cara-caranya, dan tidak dapat melakukan sesuai petunjuknya.
Kegagalan Mengajar dengan Metode Umum Berfikir dalam Pembelajaran Konvensional.
Masalah yang sering kita jumpai ketika guru mengajar adalah menyuruh siswa untuk memecahkan masalah, tanpa mengetahuai atau tidak memperhatikan tipe pelajarannya. Semua kelas disamakan. Hal ini tidak benar karena tidak melibatkan pola pikir dan potensi siswa.
Maka, Dr. Zykova, menjelaskan pelajaran geometri pada Moscow School. Dr. Zykova menjelaskan apa yang dilakuakn guru dan apa yang dilakukan siswa, yaitu:
Kegiatan Pembelajaran 1
Guru menjelaskan beberapa bentuk segitiga dan menjelaskan ciri-cirinya. Selanjutnya guru berkata bahwa pada hari ini kita akan mempelajari segitiga siku-siku dan definisinya (”Segitiga siku-siku adalah segitiga yang memiliki sudut 900).
Kegiatan Pembelajaran 2
Gur menunjukkan sgitiga siku-siku dengan memberikan beberpa ilustrasi atau gambaran yang menerangkan konsep tersebut.
Kegiatan Pembelajaran 3
Guru melengkapi dengan praktik, siswa mempelajari konsep segitiga siku-siku dan bagaimanamenerapkannya:
• Guru berkata kepada siswa tentang pengertian segitiga. Saebagian siswa mengoreksinya.
• Guru berkata kepada siswa untuk memberi contoh gambar segitiga siku-siku di papan tulis. Dua siswa mengoreksinya.
• Guru menunjukkan beberap bangu geometri di papan tulis, di antaranya segitiga siku-siku dan segitiga yang lainnya. Kemudian siswa disuruh menunjukkan mana yang termasuk segitiga siku-siku dan mana yang bukan.
• Guru berkata kepada siswa jika ada yang ingin ditanyakan atau ada yang belum jelas. Siswa menanggapi dengan senang –dalam pengulangan- bahwa semuanya sudah jelas.
Pendekatan Landamatik dalam Pembelajaran
Landamatik menyumbangkan dan memajukan perbedaan bentuk pendekatan yang sudah lazim, konsep, dan proses berfikir dengan sengaja menjelaskan metode pengajaran berfikir (Instruksional Thingking Method).
Pendekatan Landamatik adalah:
1. Membuat hitungan yang banyak, tidak perlu variasi.
2. Adanya jaminan adanya bentuk yang sebenarnya dan cukup lazim.
3. Adanya jaminan pembentukan dasar yang cukup lazim pada pembentukan dalial dan konsep yang tepat.
4. Adanya jaminan pembentukan cara pemerolehan yang efektif dan dapat mengaplikasikan pengetahuannya (ilustrasi, konsep, dan dalil).
5. Adanya jaminan yang cukup luas dan proses pemindahan yang tepat, tidak membatasi pengalaman pada pengetahuan lain dan mengubah mental pada masalah dan situasi yang baru.
6. Adanya jaminan untuk menghilangkan kesalahan dan kekeliruan dalam belajar.
7. Adanya jaminan mengembangkan kemampuan untuk mengatur sendiri, menata sendiri, dan mengontrol sendiri dalam menoperasikan mental.
8. Kemungkinan menyelesaikan semua tugas yang lebih dapat dipercaya dan relatif cepat.
Strategi 1: Disovery (Penemuan) dengan Bimbingan
Pembelajaran dengan menggunakan teknik atau metode penemuan dengan bimbingan meliputi:
Kegiatan Pembelajaran 4,
Perintahkan siswa untuk menemukan dan mengumpulkan tugas dan menyimpulkan dengan nyata sistem operasi mental untuk diaplikasikan pada konsep belajar dan mendefinisikannya. Berilah tugas untuk mengidentifikasi objek yang dimilki atau yang tidak dimiliki kelas.
Kegiatan Pembelajaran 5,
Perintahkan siswa untuk menerangkan rumus yang memberikan sistem pembelajaran:
Kegiatan Pendidikan
1. Bertanyalah kepada siswa rumusan secara lengkap atau beberapa petunjuk (cara ini tidak hanya untuk mengetahui definisi segitiga siku-siku, tetapi siswa bisa menerpakannya pada segitiga lain mana yang termasuk segitiga siku-siku dan mana yang bukan).
2. Jika siswa telah merimuskan cara yang benar, melanjutkan pembelajaran berikutnya, jika belum merencanakan hal tersebut, bagaimana merumuska sebuah metode dengan kegiatan mengenal apakah segitiga siku-siku atau bukan.
Kegiatan Pembelajaran 6,
Melengkapi praktik dengan mengaplikasikan rumusan.
Kegiatan Pendidikan:
1. Katakan pada siswa untuk mengerjakan tugas sekarang, yaitu menerapakan metode formulasi yang digunakan untuk untuk mengenal segitiga siku-siku di antar segitiga yang lain.
2. Tunjukkanlah beberapa variasi segitiga dan membedakannya menurut metode tersebut, memiliki segitiga siku-siku dan yang lain.
3. Rencanakan apa yang harus mereka lakukan dengan cara menggunakan metode setahap demi setahap. Melihat pembelajaran pertamadan mengerjakan apa yang dikatakannya, kemudian melihat pembelajaran yang kedua dan melakukan apa yang dikatakannya. Contoh menurut metode ini siswa mudah mengidentifikasi segitiga siku-siku dengan melihat posisi sudut tegak lurus.
Kegiatan Pembelajaran 7,
Melengkapi dnganmenggunakan metode internalisasi, latihan khusus secar terus menerus untuk menjamin kepandaian secar tuntas.
Kegiatan Pendidikan:
1. Katakan pada siswa bahwa mereka sekiranya tidak banya membutuhksan petunjuk yang terdapat pada papan tulis dan sekiranya mengulangnya pada pembelajaran sendiri.
2. Katakan pada siswa bahwa sekarang kamu akan menghapus petunjuk yang ada di papan tulis dan menunjukkan beberapa segitiga. Mereka harus membedakan segitiga siku-siku dengan memberi petunjuk sendiri seperti petunjuk yang ada di papantulis. Para siswa lebih mudah membentuk semua yang diperlukan dalam kegiatan mental dengan memeberi petunjuk sendiri.
Kegiatan Pembelajaran 8
Efek otomatisasi dengan metode yang melibatkan mental.
Kegiatan Pendidikan
1. Katakan pada siswa bahwa mereka tidak memerlukan kebutuhan selanjutnya dalam petunjuk diri. Mereka sekarang memamhami apa yang dilakukannya dalam mengenal sgitiga siku-siku.
2. Tunjukkan pada siswa sejumlah segitiga di antara yang mereka miliki untuk mendapat segitiga siku-siku. Katakan untuk mendapatkan secara cepat tidak mungkin tanpa memberikan petunjuk diri. Siswa lebih mudah memberi segitiga siku-siku seketika itu juga.
Mekanisme Psikologi pada Metode Internalisasi dan Otomatisasi
Teori Landamatik di dalam belajar dan praktik ada tiga tahap, yaitu:
1. Tahap pertama adalah mempelajari sebuah cara (metode) dari apa yang ada di luar sebagai bentuk pelajarana (bisa berupa catatan atau elektronik).
2. Tahap kedua adalah mengoperasikan ke dalam bentuk dari dalam diri melalui petunjuk sendiri. Ini adalah tahap internalisasi.
3. Tahap ketiga adalah mewujudkan kebutuha beberpa petunjuk yang hilang dan mulai menoperasikannya yang disesuaikan dengan tujuan dan permasalahan sendiri. Ini adalah tahap otomatisasi.
Strategi 2: Pengajaran Ekspositori
Dengan strategi 2, Siswa memiliki konsep segitiga siku-siku, bentuk lain dari segitiga, dan mendefinisikannya (seperti pada strategi 1), dalam hal ini guru semata-mata hanya mengajar semua pengetahuannya pada siswa yang sudah siap (dengan mengilustrasikan dan latiahn)
Strategi 3: Kombinasi Strategi
Dengan strategi ini, berfikirlah pada sebuah topik pembelajaran yang menggunakan strategi dirkoveri (penemuan), dan tentu berfikir lain pada pengajaran untuk melengkapi pengetahuan dalam bentuk yang sudah siap. Pilihan topik yang mengharuskan atau tidak mungkin hanya dengan pengajaran atau strategi, namun memerlukan beberapa strategi. Ini adalah faktor yang menentukan keobjektifan guru yang memberikan kesempatan dang dengan keuntungan dari metode yang lengkap tersebut.
Pembahasan Tingkatan Umum pada Metode
Metode yang digunakan untuk mendefinisikan segitiga siku-siku adalah metode umum yang diterapkan untuk beberap segitiga siku-siku, tapi apakah bisa suatu saat metode tersebut diaplikasikan pada poko bahasan lain? Apakah mungkin menjadi lebih umum? Jawabnya, bisa.
Dengan contoh sebagai titik awal, kami akan menggunakan metode yang sudah digunakan untuk mengidentifikasi segitiga siku-siku. Metode tersebut sebgai metode tingkat paling rendah (awal) disebut d1, metode pada tingkat berikutnya disebut d2, misalkan untuk menjelaskan belah ketupat.
Perhatikan perbedaan antara d1 dengan d2 yang dijelaskan pada tabel berikut:
Metode 1 (d1) Metode 2 (d2)
Digunakan untuk mengidentifikasi segitiga siku-siku.
1. Menunjukkan identitas segitiga siku-siku, yaitu segitiga yang memiliki sudut 900.
2. Berfikir dengan sunguh-sungguh untuk menandai beberapa segitiga dan melihat apakaha memiliki sudut 900.
3. Buatlah kesimpulan seperti berikut:
a. Jika segitiga memiliki sudut 900, maka disebut segitiga siku-siku.
b. Jika segitiga tidak memiliki sudut 900 maka bukan segitiga siku-siku. Digunakan untuk mengidentifikasi objek seperti d1 atau bukan pada kelas yang nyata.
1. Menunjukkan definisi pada kelas dan memisahkan berdasrkan sifat.
2. Berfikir dengan sungguh-sungguh untuk menandai beberapa objek dan melihat tanda dari semuanya.
3. Buatlah kesimpulan seperti berikut:
a. Jika objek memiliki tanda yang sma sebagai definisi, maka dikelompokan dalam kelas yang sama.
b. Jika objek memiliki tanda yang berbeda sebagai definisi, maka bukan objek yang berkelas sama.
Mungkinkah Metode 2 Selalu Dapat Digunakan?
Tidak selamanya metode 2 dapat digunakan. Pada pekerjaan yang hanya menggunakan konjungsi (hubungan), kita bisa menggunakan metode 2 tersebut. Namun, jika pekerjaan yang memiliki hubungan terpisah (disjunctive), maka metode 2 ini tidak bisa digunakan. Oleh karena itu, kita perlu menggunakan metode lain yaitu metode 3.
Untuk memperjeles keterangan ini, berikut ini dijeaskan perbedaan metode 2 dengan metode 3 dalam tabel berikut:
Metode 2
(untuk konsep yang berhubungan) Metode 3
(untuk konsep yang terpisah)
Identifikasi objek yang sama dan tidak sama pada kelas yang nyata.
1. Tunjukkan definisi pada suatu kelas dan pisahkan berdasarkan penanda sifat.
2. Pikirkan dengan sungguh-sungguh penanda yang diberikan pada beberapa objek dan amati semuanya.
3. Buatlah kesimpulan sebagai berikut:
a. Jika sebuah objek menandai kesamaan sebagai definisi, maka objek tersebut dimasukkan ke dalam objek yang memiliki kesamaan tersebut.
b. Jika sebuah objek tidak memiliki kesamaan penanda sedikit pun, maka tidak dimasukkan dalam kelas yang seobjek. Identifikasi objek yang sama dan tidak sama pada kelas yang nyata.
1. Tunjukkan definisi pada suatu kelas dan pisahkan berdasarkan penanda sifat.
2. Pikirkan dengan sunguh-sungguh penanda dari beberap objek dan telitilah penanda yang paling kecil atau sedikit.
3. Buatlah kesimpulan seperti berikut:
a. Jika sebuah objek memiliki penanda paling kecil (sedikit) sebagai definisi, maka dikelompokkan dalam kelas pada objek yang sedefinisi.
b. Jika tidak memeliki semua penanda, maka tidak dikelompokkan pada kelas yang memiliki definisi objek yang sama.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)